Desas-desus kisah “Asmara Terlarang” di Pemda Propinsi Banten mulai membuka fakta. Kali ini, sosok pemeran kisah adalah pejabat teras di Kantor Gubernur. Sejak sebulan terakhir, alamat dugaan nikah tanpa izin kepada Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah jadi wacana liar sejumlah ASN dan pejabat. Sang Wagub santai membantah isu dan tudingan sambil tersenyum. Berikut investigasi media ke sejumlah pihak dan di beberapa lokasi terpisah.
JScom | BANTEN — Cerita angin ini mulanya hanya berembus samar di lorong-lorong Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Palima, Kota Serang. Namun, dalam kurun satu bulan terakhir, kabar burung mengenai dugaan pernikahan tanpa izin resmi yang melibatkan salah satu pejabat teras di Kantor Gubernur Banten mendadak menjelma menjadi pembicaraan hangat di kalangan ASN hingga jajaran pimpinan daerah.
Nama Wakil Gubernur Banten, Dr. H. Achmad Dimyati Natakusumah, S.H., M.H., M.Si. (ADITA), berada di pusat pusaran rumor ini. Ia disinyalir telah melangsungkan pernikahan siri tanpa persetujuan dari istri sahnya—sebuah kabar yang perlahan menjadi open secret di lingkaran dekat dan kerabat kerjanya.
Menanggapi kabar angin tersebut, Sang Wagub memilih bersikap tenang. Dalam beberapa kesempatan, ia kerap membantah isu itu sambil melempar senyum tipis. Namun, penelusuran lapangan yang dilakukan terhadap sejumlah sumber di Serang, Pandeglang, hingga Tangerang Selatan justru merekam alur pergerakan yang memantik tanda tanya besar.
Penelusuran awal mengarah pada pola perjalanan rutin ADITA menuju kawasan Tangerang Selatan. Sebuah pusat perbelanjaan di CBD BSD City—Teras Kota—dan kawasan di sekitar Jalan Pahlawan Seribu, Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, menjadi titik transit yang kerap dikunjunginya.
Berdasarkan kesaksian sejumlah sumber, pola perjalanannya tergolong tak biasa. ADITA tiba di Teras Kota menggunakan kendaraan operasional bersama sopirnya. Di pusat perbelanjaan tersebut, ia selalu berganti kendaraan menggunakan mobil sewaan atau taksi menuju lokasi yang dirahasiakan, sementara sang sopir diminta menunggu di tempat atau diperintah kembali ke kediaman pribadi.
Rute rahasia itu mengarahkan penelusuran ke beberapa kawasan hunian elit di BSD City. Lokasi pertama adalah perumahan Giriloka, sebuah permukiman bersuasana resor. Lokasi kedua—yang menjadi pusat pengamatan—terletak di cluster Puspita Loka, kawasan hunian prestisius di BSD City Sektor 3.
Sabtu sore, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 17.30 WIB, pergerakan ADITA terpantau di sekitar kawasan Puspita Loka, tepatnya di dekat SD Al-Azhar BSD. Sebuah mobil Great Wall Motor (GWM) Tank berwarna putih gading, bernomor plat B 1XX5 terparkir di tepi jalan dekat pintu keluar-masuk perumahan Puspita Loka.

Sekira pukul 20.00 WIB, seorang pria keluar dari area perumahan. Pria itu mengenakan kemeja putih, celana hitam, topi, dan masker. Sambil menunduk, tangan kanannya menggenggam tas kecil berwarna hitam. Ia berjalan cepat menuju mobil GWM yang mesinnya telah disiagakan oleh seorang sopir berkemeja putih lengan panjang. Pria yang diduga kuat sebagai ADITA itu segera membuka pintu kiri masuk ke mobil, lalu kendaraan melaju meninggalkan lokasi.
Keesokan harinya, Minggu, 16 Agustus 2026, sekitar pukul 13.00 WIB, kendaraan GWM Tank putih gading itu kembali terlihat melintas di kawasan Puspita Loka. Kali ini, tanpa supir, ADITA mengemudikan kendaraan seorang diri menuju sebuah rumah dua lantai yang terletak di sudut Jalan T.
Ia memarkir kendaraan di depan rumah dan langsung masuk. Di teras rumah itu ada sebuah mobil Listrik terparkir. Sekitar dua jam kemudian, ADITA keluar mengandeng seorang anak laki-laki menuju mobil.
Saat dihampiri untuk mengonfirmasi kehadiran serta status kepemilikan rumah tersebut. “Assalamualaikum Pa Wagub, saya wartawan, izin konfirmasi”. ADITA tidak merespon salam dari wartawan. Dia buru-buru membimbing anak laki-laki dari pintu mobil sebelah kanan, menghidupkan mobil, dan melaju. ADITA pergi meninggalkan lokasi tanpa sempat mengunci pagar rumah.
Ada yang aneh disini, entah bagaimana ceritanya, beberapa saat setelah mobil ADITA meluncur, tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar mengunci pintu pagar. Ternyata itu anak laki-laki yang bersama ADITA tadi. Mungkin ADITA menurunkannya di jalan samping rumah, dan masuk melalui pintu garasi samping.]

Kurang lebih 30 menit setelah kendaraan ADITA menghilang, seorang perempuan dan anak laki-laki tadi keluar dari rumah di Jalan T, lalu menuju berpindah menuju rumah lain dengan menggunakan Mobil Listrik, yang berjarak antar kedua rumah itu tak jauh, di dalam cluster yang sama. Di garasi rumah kedua tersebut, terparkir mobil lain, sebuah Toyota Corolla Hybrid berwarna merah.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa rumah di Jalan T merupakan hunian yang baru dibeli atas nama seorang perempuan, sementara rumah kedua bertindak sebagai hunian sewa. Sebelumnya, terdapat pula riwayat sewa rumah lain di perumahan Giriloka. Dugaan yang berkembang menyebutkan aset hunian tersebut berkaitan dengan keberadaan sosok yang disebut-sebut sebagai “istri siri”. Upaya konfirmasi kepada pengurus RT dan RW setempat belum membuah hasil karena pengurus sedang tidak berada di tempat.
Kesempatan untuk meminta klarifikasi secara langsung akhirnya terbuka pada Senin, 17 Agustus 2026, usai Upacara Peringatan HUT Ke-81 RI di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang.
Ketika dikonfirmasi mengenai keberadaannya di Jalan T dan status penghuni rumah tersebut, Achmad Dimyati memberikan jawaban singkat.
“Nggak tahu ya, itu bukan saya. Oh, itu saudara saya, saudara saya daerah sana,” ujarnya santai sebelum berlalu.
Upaya konfirmasi kedua dilakukan pada sore hari setelah Upacara Penurunan Bendera di lokasi yang sama. Saat ditanya kembali apakah hunian di Puspita Loka merupakan kediamannya bersama istri, jawaban yang diberikan bergeser.
“Saya tidak tahu, ajudan saya (mungkin). Ajudan saya orang sana (Tangerang Selatan),” tutur ADITA seraya mengarahkan kepemilikan atau aktivitas di lokasi tersebut kepada staf pengawal pribadinya.
Dalam kesempatan itu, konfirmasi soal video ADITA keluar dari perumahan Puspita Loka dengan berjalan kali menuju mobil yang berada di luar Kawasan Perumahan, tidak direspon ADITA. Jarak antara Jalan T di dalam Kawasan Puspita Loka dengan lokasi parker mobil kurang lebih 500 meter. Mengapa ADITA berjalan kaki? Mengapa tidak menggunakan mobil masuk ke Jalan T? entah.
Meskipun bantahan telah disampaikan secara lisan, dinamika di lapangan terus berjalan. Pada Rabu siang, 20 Agustus 2026, kehadiran ADITA kembali terpantau di rumah yang terletak di Jalan T, Puspita Loka.

Pada kunjungan kali ini, ia tidak lagi menggunakan SUV GWM Tank berwarna putih. ADITA tampak datang mengendarai sendiri Toyota Land Cruiser Prado berwarna hitam. Kendaraan tersebut menyita perhatian lantaran mengenakan pelat nomor khusus tulisan warna kuning bersimbol lambang Tribrata berwarna kuning, menandai dinamika baru dalam rangkaian penelusuran ini. (TimJS, Bagian I)























