BERITANASIONALPENDIDIKAN

Bahtera NUH ditemukan? || Formasi Durupinar Turki, Ekskavasi Ilmiah Terbaru Memantik Debat Kapal Nabi Nuh

×

Bahtera NUH ditemukan? || Formasi Durupinar Turki, Ekskavasi Ilmiah Terbaru Memantik Debat Kapal Nabi Nuh

Sebarkan artikel ini
Formasi Durupinar di Turki (Instagram/@noaharkscans)

Turki bagian timur kembali menjadi pusat perhatian dunia pekan ini. Sejumlah media internasional ramai menyoroti kembali kawasan di sekitar pegunungan Ararat, tempat di mana sebuah formasi geologis berbentuk lambung kapal kembali memantik pertanyaan abadi: benarkah di sinilah sisa-sisa Bahtera Nabi Nuh bersemayam setelah ribuan tahun lalu menyelamatkan peradaban dari terjangan banjir besar?

KISAH tentang bahtera yang mengangkut berbagai spesies secara berpasangan ini hidup dalam tradisi suci tiga agama samawi—Yahudi, Kristen, dan Islam. Namun, di balik narasi agung tersebut, sains modern menuntut pembuktian yang berpijak pada fakta empiris.

Sorotan publik mengarah pada serangkaian penggalian ilmiah intensif yang berlangsung sejak 29 Juni hingga 11 September 2026. Proyek penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Cenker Atila, seorang arkeolog dari Universitas Sivas Cumhuriyet, bekerja sama dengan organisasi riset asal California, Noah’s Ark Scans, yang didirikan oleh Andrew Jones.

Bacaan Sahabat JS  Kementerian Pariwisata Umumkan Festival Tanjung Waka Masuk 110 Karisma Event Nusantara (KEN) 2025

Berbeda dari ekspedisi masa lalu yang hanya mengandalkan spekulasi, tim peneliti kali ini turun tangan membawa perangkat teknologi tinggi. Mulai dari koordinat GPS presisi, pemodelan digital 2D dan 3D, teknik pengeboran inti, pemindaian electrical resistivity tomography (ERT), hingga teknologi ground penetrating radar (GPR) berpresisi tinggi dikerahkan untuk membedah isi Formasi Durupinar—sebuah struktur menyerupai kapal sepanjang 157 meter yang terletak sekitar 29 kilometer sebelah selatan puncak Gunung Ararat.

Menggunakan robot bawah tanah beresolusi tinggi bernama drone Gopher, tim bahkan merekam visual dari bagian dalam formasi tersebut. Andrew Jones menyebut data awal menunjukkan kejutan: pemindaian radar tidak menemukan indikasi adanya “batuan padat yang homogen.” Sebaliknya, tim melaporkan adanya koridor utama sepanjang sekitar 71 meter, struktur siku-siku hingga kedalaman 6 meter yang ditafsirkan sebagai ruangan dan lorong, serta temuan sekitar 1.000 sampel tanah dengan kadar karbon tinggi dan fragmen tembikar.

Bacaan Sahabat JS  KPU Makin “Brutal”, Setelah Hujan Kritik, IP Addres Sirekap Diam-Diam Dipindah Dari Singapura ke Indonesia

Bahkan, pengeboran inti berhasil merangsek hingga kedalaman 18 meter tanpa menemukan batuan dasar atau batu kapur padat di dalam formasi tersebut.

Kendati temuan awal ini tampak begitu memukau, para ilmuwan di balik proyek ini memilih bersikap sangat hati-hati. Prof. Cenker Atila dengan tegas menepis pemberitaan yang menyebut Bahtera Nabi Nuh telah ditemukan secara definitif.

Hingga hari ini, belum ada sisa kayu, paku, maupun material buatan manusia lainnya yang berhasil ditemukan di lokasi yang berjarak hanya 3 kilometer dari perbatasan Iran tersebut. Juga, belum ada satupun temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah melalui proses peer-review yang independen.

Perdebatan ini sejatinya bukanlah hal baru. Sejak bentuk dasarnya teridentifikasi pada 1959, Formasi Durupinar telah lama membelah opini para ahli. Pada tahun 1996, pakar geologi Lorence Collins dan penjelajah David Fasold pernah menerbitkan studi yang menyimpulkan bahwa formasi tersebut murni “batuan alam sepenuhnya” dan menyebut teori bahtera di sana sebagai hal yang tidak benar.

Bacaan Sahabat JS  Gabalil Hai Sua 2026 Resmi Launching, Panitia Umumkan Pemenang Sayembara Logo dan Bagi-bagi Paket Ramadhan

Kini, penelitian terbaru yang turut melibatkan ahli teknik Dr. Khosrow Bakhtar dari Bakhtar Research and Engineering LLC berupaya menguji ulang hipotesis yang saling bertentangan tersebut secara objektif.

Namun, publik harus bersabar. Sebanyak sampel tanah dan inti batuan yang telah dikumbat dari kedalaman belasan meter tersebut kini tengah melalui proses uji laboratorium yang ketat. Hasil uji penanggalan karbon dan laporan komprehensif diperkirakan baru akan rampung dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Apakah Formasi Durupinar benar-benar menyimpan sisa-sisa bahtera legendaris yang menyelamatkan kehidupan ribuan tahun silam, ataukah ia sekadar keajaiban pahatan alam semesta? Jawabannya kini berada di tangan para ilmuwan dan ketelitian uji laboratorium dalam beberapa pekan mendatang.***