BERITANASIONAL

HARI SANTRI NASIONAL 2026 || Ahmad Assagaf : Menjaga Denyut Santri: Antara Panggung Seremonial dan Ketulusan Mengawal Bangsa

×

HARI SANTRI NASIONAL 2026 || Ahmad Assagaf : Menjaga Denyut Santri: Antara Panggung Seremonial dan Ketulusan Mengawal Bangsa

Sebarkan artikel ini

Denyut nadi kehidupan keagamaan dan kebangsaan di seluruh penjuru Tanah Air berdetak serentak dalam semangat Hari Santri Nasional (HSN). Peringatan ini bukan sekadar momen historis untuk mengenang resolusi jihad yang dikobarkan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, melainkan sebuah refleksi atas kontribusi nyata santri yang terus bertransformasi mengawal masa depan bangsa.

JScom | JAKARTA — Di tengah semarak peringatan tahun ini, Ketua Umum FORKI Maluku Utara, Ahmad Assagaf, ST, menyampaikan apresiasi mendalamnya. Menurutnya, gaung semangat kebersamaan dan optimisme kini kian terasa kuat, baik di pondok pesantren perkotaan maupun di pelosok-pelosok Nusantara.

“Dari bilik-bilik pesantren, santri tidak hanya ditempa dalam ilmu agama dan akhlakul karimah, tetapi juga dibekali dengan ketangguhan mental untuk menjawab tantangan zaman yang kian dinamis,” ujar Ahmad dengan penuh semangat.

Bagi Ahmad, momentum Hari Santri adalah titik instrospeksi penting. Pondok pesantren di Indonesia saat ini berada di persimpangan sejarah yang amat strategis. Di satu sisi, pesantren tetap kokoh berdiri sebagai penjaga otentisitas keilmuan Islam (turats) dan pusat pembentukan karakter yang berakar pada nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, serta kemandirian.

Bacaan Sahabat JS  Kejurda Siap Digelar, FORKI Malut Fokus Atlit Kejurnas Soreang dan Porprov V Tobelo

“Di sisi lain, arus digitalisasi dan modernisasi menuntut pesantren untuk adaptif tanpa kehilangan jati diri,” tandas pengurus SPSI Maluku Utara ini.

Kini, berbagai pondok pesantren telah membuktikan diri mampu melahirkan generasi yang fasih membaca kitab kuning, sekaligus cakap dalam teknologi informasi, sains, ekonomi syariah, hingga kewirausahaan sosial. Pesantren bukan lagi entitas yang terisolasi, melainkan episentrum kebangkitan umat yang inklusif dan progresif.

Kritik Tajam di Balik Panggung Seremonial

Meski penuh optimisme, Ahmad sepakat dengan pandangan kritis DR. Ir. Habib Alwi bin Muksin Aljufri, M.Pd.I., dalam artikelnya yang viral jelang Hari Santri tahun ini. Dalam tulisan tersebut, Habib Alwi mengibaratkan Hari Santri Nasional layaknya panggung sandiwara nasional yang mendadak disulap menjadi lautan kain sarung dan peci hitam yang berkilau karena sorotan lampu kamera. Begitu hari berganti dan kenduri usai, kain sarung dan peci hitam itu pun disimpan kembali ke lemari.

Bacaan Sahabat JS  Kunjungi Mangoli Utara Timur, HT "Dapa Hela" ke Lokasi Jembatan Kawata, Bupati Ningsih Jadi Sasaran Hujatan

Menurut Anggota Kehormatan DP3AD DKI Jakarta – Maluku Utara ini, Hari Santri kerap datang layaknya tamu agung tahunan yang disambut karpet merah retorika manis. Seolah-olah, sepanjang tahun sebelumnya para santri tidak pernah dianggap sebagai penonton kelas dua di negeri sendiri.

“Para pejabat negeri berlomba mengenakan atribut keagamaan dengan kaku, seolah-olah sehelai kain sarung bisa otomatis melunturkan dosa-dosa kebijakan yang mereka buat kemarin sore,” ungkap Ahmad mengutip Habib Alwi.

Bacaan Sahabat JS  Sultan Tidore - Asrul Rasyid Ichsan Unggul 38,35 Persen Real Qount Pusat Data HAS Malut

Ahmad juga menyoroti bagaimana pesantren, di mata para pemuja pencitraan, sering kali disulap menjadi pabrik kesucian otomatis. Tempat di mana para pemuda dikurung dalam sangkar sunyi dan dipaksa menghafal kitab kuning di bawah ancaman rotan imajiner.

Masyarakat luar kerap mengagumi ketabahan santri dari kejauhan. Namun, begitu gerbang pondok dibuka, sebagian orang justru buru-buru menyemprotkan “disinfektan pemikiran modern” seolah takut para santri menularkan radikalisme purba ke pusat-pusat perbelanjaan mewah.

Momentum Muhasabah Bersama

Menutup perbincangan, Ahmad mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai hari besar ini secara lebih substansial, bukan sekadar seremonial belaka.

“Semoga kita semua, warga negara Indonesia, menjadikan momen Hari Santri sebagai titik introspeksi dan muhasabah, untuk membangun keadaban sosial berbangsa dan bernegara di NKRI tercinta. Bismillah,” pungkas Ahmad Assagaf, ST.

Selamat Hari Santri Nasional 2026!