Kepulauan SulaBERITAKESEHATANMaluku Utara

Ironi Pasien Gerobak di Ujung Mangoli: “Sula Bahagia” Sebatas Slogan

×

Ironi Pasien Gerobak di Ujung Mangoli: “Sula Bahagia” Sebatas Slogan

Sebarkan artikel ini

Bayangkan sebuah siang yang terik di Desa Waisakai, ujung Pulau Mangoli. Alih-alih mendengar raungan sirine ambulans yang membawa pasien dengan sigap, telinga kita justru disuguhi bunyi derit roda kayu yang bergesek dengan tanah berbatu. Di atas sebuah gerobak kayu sederhana—jenis kendaraan tradisional yang biasa digunakan warga untuk mengangkut hasil bumi—seorang pasien terbaring lemah. Ia baru saja keluar dari puskesmas, bukan disambut fasilitas medis yang mumpuni, melainkan diangkut pulang layaknya barang hasil kebun.

Fokus Redaksi di Ahad Petang

POTRET pilu di atas mendadak viral di media sosial. Sebuah video berdurasi 2,25 menit yang diunggah di Facebook menjadi perbincangan hangat, memicu gelombang amarah sekaligus rasa iba netizen di Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Dalam video tersebut, pemandangan di dalam Puskesmas Waisakai, Kecamatan Mangoli Utara Timur, pun tak kalah menyayat hati. Tempat tidur pasien yang digunakan terbuat dari kayu lokal yang kasar.

“Puskesmas Waisakai punya tempat tidur pakai kayu ee,” tulis salah satu netizen dengan nada masygul.

Netizen lain menimpali dengan pertanyaan yang menghujam langsung ke jantung kebijakan: “Astaga, pemerintah di mana dunia kon orang saki me so pake gerobak… dekat kantor camat lagi.”

——

Bacaan Sahabat JS  DOB Mangoli Raya Cuma Gaya, Manis Di Bibir Memutar Kata

Ke mana perginya fasilitas yang seharusnya menjadi hak masyarakat? Penelusuran di lapangan menguak fakta yang mencengangkan. Puskesmas Waisakai sebenarnya pernah memiliki kendaraan operasional roda empat untuk pelayanan kesehatan.

Namun, roda ambulans itu tak lagi berputar di jalanan Waisakai. Kendaraan tersebut kabarnya telah diseberangkan ke Sanana, pusat kabupaten Kepulauan Sula, dan beralih fungsi menjadi kendaraan dinas pejabat tinggi pemerintah daerah. Sebuah ironi yang nyata: hak kesehatan masyarakat kecil dikorbankan demi kenyamanan birokrasi.

Pelayanan kesehatan di Kepulauan Sula memang seolah hidup dalam dua dunia berbeda: dunia mitos penuh pesona yang keluar dari mulut para pejabat, dan dunia fakta yang dihadapi masyarakat jelata setiap hari.

——-

Jika mendengarkan pidato dari panggung-panggung formal, Kepulauan Sula tampak seperti surga kesehatan. Ambil contoh peresmian Rumah Sakit Pratama Dofa oleh Bupati Kepulauan Sula, Fifian Adeningsih Mus.

Dalam acara megah tersebut, sang Bupati dengan lantang menjanjikan pelayanan kesehatan 24 jam penuh. Tepuk tangan riuh bergemuruh, menyambut janji manis yang menyejukkan hati. Tokoh-tokoh masyarakat bergantian melayangkan pujian di berbagai media massa.

Bacaan Sahabat JS  CEO Silicon Valley Bridge Bank Meminta Pelanggan untuk menyetor ulang dana Mereka

Namun, begitu tirai seremoni ditutup, yang tersisa hanyalah bangunan kosong tanpa nyawa. Rumah sakit berbandrol Rp 44 miliar tersebut hingga kini tak lebih dari sebuah “monumen kehampaan”. Tidak ada pelayanan medis di sana. Jangankan peralatan medis canggih, fasilitas mendasar seperti air bersih dan akses jalan masuk ke gedung pun masih dalam kondisi rusak dan terbengkalai. Skenario indah itu rupanya hanyalah drama yang menyisakan kekecewaan mendalam bagi warga.

Pelayanan 24 Jam RS Pratama Dofa, fakta : gedung kosong, air bersih belum ada. Mobil Puskesmas Keliling (Pusling), fakta : dibawa ke kabupaten untuk pejabat. Slogan “Sula Bahagia Kesehatan”, Fakta : Pasien diangkut pakai gerobak kayu.

——

Daftar rapor merah ini tidak berhenti di RS Pratama Dofa. Empat gedung Puskesmas yang dibangun menggunakan uang rakyat kini menuai sumpah serapah dari masyarakat. Gedung-gedung yang seharusnya sudah rampung dan melayani warga sejak tahun 2023 itu, hingga kini konstruksinya masih berupa tiang-tiang tak bertuan.

Setali tiga uang, nasib Gedung Laboratorium Kesehatan Kepulauan Sula yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai 15 miliar rupiah pun bernasib sama. Anggaran dikabarkan sudah cair 100 persen, masa kontrak kerja telah kedaluwarsa, namun fisik bangunan jauh dari kata selesai. Ketika dikonfirmasi, “jurus seragam” yang dikeluarkan oleh para pejabat terkait selalu sama: memilih tutup mulut dan menghindar dari tanggung jawab.

Bacaan Sahabat JS  Polda Malut Jadwalkan Gelar Perkara Dugaan Korupsi Dana Inspektorat Kepulauan Sula

Bahkan, armada laut (speedboat) puskesmas yang sangat vital untuk wilayah kepulauan pun kini raib dari pantauan publik. Alih-alih bersiaga di dermaga untuk merujuk pasien dalam kondisi darurat, keberadaannya justru menjadi tanda tanya besar.

——

Di tengah kepungan infrastruktur yang mangkrak dan pelayanan yang carut-marut, slogan “SULA BAHAGIA KESEHATAN” yang sering digelorakan Bupati Fifian Adeningsih Mus terasa seperti sebuah satir yang getir.

Masyarakat pun kini berbisik di antara rasa sakit mereka:

Apakah yang dimaksud dengan ‘Bahagia Kesehatan’ itu adalah ketika seorang pasien lansia yang sakit harus bertaruh nyawa di atas gerobak kayu ber-ban bekas hanya untuk mendapatkan hak paling mendasar mereka sebagai manusia?

–Tim Redaksi JurnalSWARA —