Halmahera TimurMaluku Utara

Kali Kukuba Terdampak, LATAMLA Desak Buka AMDAL PT FHT di Haltim

×

Kali Kukuba Terdampak, LATAMLA Desak Buka AMDAL PT FHT di Haltim

Sebarkan artikel ini
SUNGAI KUKUBA, foto : kadera.id

Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (Latamla) mengutuk keras kelalaian manajemen PT Feni Haltim (FHT) yang berdampak tercemarnya Kali Kukuba di Teluk Buli. Massa dua Karang Taruna di Maba bersikap cepat memboikot jalan, mencegah karyawan perusahaan masuk kerja. Salawaku Institut menyesalkan sikap abai perusahaan yang menyebabkan rusaknya lingkungan sekitar. Benarkah ini ambisi negara memaksimalkan pendapatan tenpa tata Kelola lingkungan yang baik?

JScom | HALTIM –  Direktur Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (Latamla), Drs. Faiz Albaar menilai limpasan air ke Kali Kukuba disebabkan konstruksi pembangunan Cekdam (check dam) yang dibangun PT FHT tak sesuai peruntukannya. Check Dam tidak mampu menahan debit air ketika hujan deras. Kondisi seperti ini sudah terjadi beberapa kali, tapi tidak mendapat perhatian perusahaan tersebut.

“PT FHT wajib melindungi lingkungan sekitar dari dampak aktifitas perusahaan. Kali Kukuba sebagai nadi utama habitat laut di Teluk Buli harus diselamatkan, dan wajib Lestari,” demikian Faiz Albaar dalam keterangan persnya, menyusul aksi boikot perusahaan oleh sejumlah aktifis yang tergabung dalam dua Karang Taruna di Maba Haltim, Selasa (5/5/2026)

Menurut Faiz, bendungan kecil atau tanggul penahan yang dibangun melintang di sungai /Kali Kukuba tidak mampu menahan sedimen (lumpur/pasir), laju erosi. Padahal fungsi Check Dam ini harus bisa mencegah pendangkalan sungai di hilir serta mengendalikan risiko banjir bandang.

Aksi Boikot Perusahaan FHT oleh dua Karang Taruna di Maba

Karena itu, Latamla mendesak pihak berkewenangan untuk segera memastikan pelaksanaan dokumen AMDAl PT FHT yang seharusnya. Faiz juga menilai perusahaan ini telah lalai dalam komitmen lingkungan lestari. Dimana ada laporan masyarakat soal sejumlah areal dan kawasan hutan mangrove digusur untuk ruang aktifitas perusahaan.

Dilaporkan, Pengurus Karang Taruna Buli Karya dan Karang Taruna Teluk Buli ,Selasa pagi, pukul 04.30 WIT menggelar aksi demo dihalaman PT Feni Haltim. Aksi demo dinihari itu untuk memboikot karyawan perusahaan yang masuk kerja.

Dua Karang taruna ini menduga PT FHT sengaja mencemari lingkungan dan mengganggu aktifitas public di sekitar Teluk Buli, terutama di Kali Kukuba.

Pihak perusahaan meminta massa dua karang taruna untuk dialog. Menurut ketua Karang Taruna Teluk Buli, Nanang Abubakar, hasil dialog/hearing pagi tadi, pihak perusahaan berjanji segera melakukan penanganan pencemaran di Kali Kukuba. Jika tidak, maka operasional perusahaan tersebut dihentikan.

Ketua Karang Taruna Buli karya, M  Sayuti Hi Adam, menambahkan bahwa hasil hearing pada prinsipnya FHT siap mnyelesaikan dalam beberapa hari ini penyedotan untuk membersihkan lumpur lumpur yang mencemari sungai Kukuba hingga ke pesisir Pantai. “Progres penanganan akan dilaporkan secara berkala kepada teman pemuda di Mabapura dan pemuda di kecamatan Maba,” ujar M.Suyuti Hi Adam, Ketua Karang Taruna Buli Karya.

Penyebab terjadinya pencemaran tersebut, tambah M Suyuti, pada tanggal  2 Mei terjadi  curah hujan dengan intensitas yang  tinggi sehingga mengakibatkan cekdam yang dibuat pihak PT Feni Haltim untuk menampung air terjadi over dan meluap  mencemari Kali Kukuba.

Sementara pegiat lingkungan dari Salawaku Institut, M. Said Marsaoly, menyatakan bagian hulu Kali Kukuba kini tercemar karena diduga akibat operasi PT FHT dan sub-kontraktornya PT Buka Bumi Konstruksi. Pencemaran di kali dan wilayah pesisir ini terjadi diduga akibat perusahaan tersebut membuka lahan pembangunan pabrik baterai.

“Kejadian sudah berulang sejak Agustus tahun lalu. Sayangnya tidak ada penanganan serius dari pihak perusahaan secara sungguh-sungguh untuk pemulihan,” kata Said, Selasa (5/5/2026), sebagaimana mengutip malutpos.com.

Menurutnya, dampak dari aktivitas perusahaan tersebut tidak hanya dirasakan saat ini, namun berpotensi berkepanjangan. Sebab laut yang menjadi sumber pangan utama masyarakat kini terancam. Alhasil, nelayan terancam kehilangan mata pencaharian, lantaran ikan yang ditangkap tengah tercemar.

“Kami melihat ini akibat dari ambisi negara melancarkan proyek nasional yang katanya bersih itu. Tapi mereka tidak melihat dampak buruknya,” tegas Said. (SK-JS)

Bacaan Sahabat JS  Miliki Pendukung Potensial, Tim Sultan Tidore - Asrul Tancap Gas Bentuk Tim Kabupaten/Kota