BERITANASIONAL

Krakatau Meletus Tertangkap Satelit, Diduga Tembus Lapisan Tropopause | Cuaca Lokal Tetap Diwaspadai

×

Krakatau Meletus Tertangkap Satelit, Diduga Tembus Lapisan Tropopause | Cuaca Lokal Tetap Diwaspadai

Sebarkan artikel ini
Letusan piroklastik anak Krakatau dimulai sejak sekitar pukul 23.00 WIB dan teramati dari satelit masih terjadi hingga sekarang yang beegerak ke arah barat sepanjang 851 km. (Dok. Zoom Earth via Instagram/ermayulihastin) Foto:

Aktivitas erupsi eksplosif Gunung Api Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik masif yang tertangkap oleh pantauan citra satelit. Letusan ini tercatat berlangsung sejak Jumat (4/9) malam pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9) pagi pukul 04:40 WIB, menyusul peningkatan status gunung tersebut yang kembali aktif sejak Juli 2026.

JScom | JAKARTA – Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, membeberkan analisis melalui akun X personalnya. Berdasarkan pantauan citra satelit, material letusan Gunung Api Anak Krakatau membentuk kolom awan tebal yang bergerak ke arah barat dengan bentangan mencapai 851 kilometer, mencakup wilayah hingga Pulau Enggano.

“Letusan piroklastik anak Krakatau dimulai sejak sekitar pukul 23.00 WIB dan teramati dari satelit masih terjadi hingga sekarang yang bergerak ke arah barat sepanjang 851 km,” ungkap analisis tersebut. Besarnya volume material yang terpantau secara visual menandakan skala letusan yang sangat signifikan.

Simulasi atmosfer menunjukkan bahwa erupsi ini melontarkan kolom letusan yang sangat tinggi, dengan estimasi mencapai 13 hingga 14 kilometer. Ketinggian tersebut bahkan menyentuh lapisan tropopause—batas atas troposfer—yang memungkinkan material vulkanik tersebar luas ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Meskipun sebaran utama saat ini didominasi ke arah barat, dinamika cuaca lokal tetap patut diwaspadai. Pada waktu-waktu tertentu, kombinasi tekanan rendah di Banten serta hembusan angin laut yang kuat berpotensi menarik sebaran awan piroklastik ini mengarah ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya.

Dampak Operasional hingga Iklim Global

Imbas langsung dari erupsi ini sempat menutup operasional Bandara Soekarno-Hatta hingga pukul 09:30 WIB, yang berdampak pada 22.798 penumpang. Namun di balik gangguan operasional penerbangan dan kualitas udara yang ditimbulkannya, letusan ini turut membawa dampak alami bagi iklim global, antara lain:

Pemicu Kondensasi Hujan: Awan abu panas yang mengandung sulfur oksida dan membentuk awan pyrocumulus dapat bertindak sebagai aerosol serta inti kondensasi awan. Jika didukung oleh suplai uap air yang memadai dari Samudra Hindia (dengan catatan kondisi tidak terjadi IOD positif), fenomena ini berpotensi memicu terjadinya hujan.

Penyejuk Suhu Atmosfer: Pelepasan sulfur dalam jumlah masif ke atmosfer secara alami berfungsi mendinginkan temperatur global. Partikel aerosol sulfur ini mampu memantulkan kembali radiasi matahari ke ruang angkasa, sehingga berperan dalam meredam laju pemanasan global (global warming). (Tim)

Bacaan Sahabat JS  Prabowo Unggul Quick Count, ERDOGAN : Mr President Elect, Dear Brother