OPINIBERITAHUMANIORA

TRIBUT TO Loela Drakel : Dedikasi dan Jejak di Senandung Sunyi Sang Maestro

×

TRIBUT TO Loela Drakel : Dedikasi dan Jejak di Senandung Sunyi Sang Maestro

Sebarkan artikel ini
Sumber Foto : Medsos Facebook

Loela Drakel adalah sosok yang sederhana, tenang, dan memilih untuk tetap bersahaja di tengah besarnya kekaguman jutaan penggemar. Lagu dan musik pemilik nama asli Abdul Halil Drakel ini identik dengan genre musik pop melankolis dan tembang kenangan yang menyentuh hati, menghiasi blantika musik Indonesia sejak era 1980-an hingga 2000-an.

Oleh : BABATOPA, Jurnalis Kampung

SAAT scrool beranda facebook, beta mendapati sebuah postingan foto, bertulis TRIBUT TO LOELA DRAKEL (TLD), lengkap dengan foto keren. Postingan ini ibarat pengumuman ada konser besar di tanggal 4 September 2026 pendatang. Alhamdulillah, Bang Loela sudah sehat. Rupanya, TLD adalah sebuah acara kolosal yang digagas anak dan musisi muda Kota Ternate, memberi apresiasi, penghargaan atas karya dan dedikasi Bang Loela di bidang seni; Cipta Lagu, Penyanyi dan Partisipasi Kebudayaan. Semoga Bang Loela segera sembuh dan beraktifitas seperti biasa. Amin.

Dari Gedung Pertemuan Dofa Menembus Kamera Ria

Beta masih ingat betul nostalgia era 80-an. Saat itu beta masih duduk di bangku Sekolah Dasar di bagian barat Pulau Mangoli. Bang Loela Drakel bersama grup band-nya bertolak dari Sanana menggunakan longboat demi menggelar konser di Gedung Pertemuan sederhana di Dofa.

Suasana malam itu luar biasa meriah. Antusiasme penonton meluas hingga menyedot warga dari desa-desa tetangga seperti Desa Pas Ipa, Pelita, Lekokadai, Lekosula, Falabisahaya, bahkan melintasi laut dari Pulau Taliabu—seperti Desa Samuya dan Desa Parigi.

Di ‘konser’ itu, Bang Loela sukses memukau hadirin lewat lagu daerah Kepulauan Sula berjudul Ak Eya. Tak berhenti di situ, ia menghipnotis penonton lewat lagu-lagu romantis ciptaannya sendiri yang sarat dengan karakter khas melankolis. Saat itu, Bang Loela tercatat sebagai satu-satunya penyanyi daerah setempat yang berhasil mencuri perhatian begitu besar.

LOELA DRAKEL, Sang Maestro

Tak butuh waktu bertahun-tahun, aksi panggungnya tak lagi sekadar ditemui di Sanana atau Kepulauan Sula. Panggungnya telah berganti. Dari lokasi Televisi Umum, dari balai desa di pelosok pulau, katong mulai menyaksikan sosoknya menyanyi di layar kaca melalui program legendaris Kamera Ria dan Aneka Ria Safari di Televisi Republik Indonesia (TVRI). Bang Loela resmi menembus blantika musik nasional di Jakarta.

Karakter Musik dan Jejak Karya yang Melegenda

Kehadiran Bang Loela cepat diterima publik berkat ciri khas musik slow tempo yang mendayu-dayu. Penampilannya selalu mengutamakan vokal penuh penghayatan yang terdengar puitis dan meratap, dipadu dengan dentingan instrumen keyboard synthesizer klasik serta melodi gitar akustik yang lirih.

Sebagai musisi dan pencipta lagu, gaya aransemen serta warna suaranya sangat kuat mencerminkan musik Indonesia era 80-an dan 90-an—sederhana dalam harmonisasi, namun begitu catchy dan melekat di ingatan. Lirik-liriknya yang puitis dan lugas banyak bercerita tentang dinamika kehidupan hingga luka dan hati yang patah.

LOELA DRAKEL : saat pengambilan gambar Film Dokumenter Jejak dan Karya Loela Drakel yang digagas oleh salah satu kementerian. Pengambilan gambar ini dilakukan setelah Sang Mastro jatuh sakit, beliau duduk di kursi roda.

Karya terbesarnya, Anggur Merah, menjadi lagu hits paling fenomenal di pasaran. Sukses besar ini melahirkan sekuel Anggur Merah 1 dan Anggur Merah 2 yang menguasai putaran radio hingga platform digital. Kisah ini diyakini ditutup rapat lewat Anggur Merah 3, sebelum akhirnya disempurnakan oleh irisan musik yang lembut dan dalam, melalui Selamat Tinggal Anggur Merah.

Tembang Aku Bukan Pintu juga sangat populer karena liriknya yang mendalam. Lagu Biarlah Ku Sendiri menjadi tembang patah hati ikonik yang sering dinyanyikan ulang oleh musisi lain, sementara Cintanya Pramuria menyentuh sisi realita sosial. Deretan lagu ini memastikan Bang Loela sebagai Raja Pop Daerah di Timur Indonesia.

Ketika menjadi “penduduk” Kota Manado, lahir hits Dego-Dego Cinta yang kental dengan nuansa Indonesia Timur, Batu Bara yang bercerita mendalam, serta tembang berbahasa Manado yang sangat emosional, Kita So Bukan Ngana Pe Sayang.

Perjalanannya Bang Loela ke Tanah Papua (Irian Jaya) melahirkan Anggrek Hitam—sebuah metafora puitis untuk menggambarkan kekaguman seorang pendatang terhadap kebaikan hati dan pesona gadis asli Papua yang berharga bagai bunga langka.

Senyum Bersahaja Sang Maestro

Kontribusi besar musisi asal Maluku Utara ini terhadap kebudayaan dan perkembangan musik daerah menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting seni musik Nusantara, yang dibuktikan lewat tak terbilang banyaknya penghargaan sepanjang kariernya.

Kini, Bang Loela menikmati masa tuanya di Kota Ternate. Beberapa waktu lalu, kabar kurang menyenangkan terdengar ketika sang maestro jatuh sakit dan memerlukan perawatan medis.

Di media sosial, nampak beliau duduk di atas kursi roda. Namun, senyum hangat tetap terunggul dari wajahnya setiap kali menyapa orang-orang yang berjumpa dengannya. Inilah keteladanan dari sosok yang telah memberikan begitu banyak karya dan hiburan bagi khalayak ramai.

Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi panjang tersebut, sebuah gelaran spesial bertajuk “Tribut To Loela Drakel” disiapkan pada 4 September 2026 mendatang di Kota Ternate. Pesta kolaborasi ini menggabungkan penjelajahan lagu-lagu ciptaannya dengan ajang temu kangen musisi lokal untuk merayakan karya sang maestro.

Salam sehat untukmu, Bang Loela Drakel. Karya-karyamu akan tetap abadi di hati pendengar Nusantara dan Dunia. ***

Bacaan Sahabat JS  SIREKAP, Petaka Pemilu 2024, Pernah Ditolak, Kini Digunakan, KPU Minta Maaf