HUMANIORAKepulauan SulaMaluku UtaraOPINI

KUE LAPIS SANANA || Harum Rempah, Simbol Sahaja & Mengangkat Marwah Masyarakat Sula

×

KUE LAPIS SANANA || Harum Rempah, Simbol Sahaja & Mengangkat Marwah Masyarakat Sula

Sebarkan artikel ini

Di balik harumnya aroma rempah yang berpadu dengan kehangatan bara kayu bakar, tersimpan sebuah legenda rasa yang diwariskan turun-temurun oleh para Pia Matua (leluhur) di tanah Sula. Dialah Kue Lapis Sanana—penganan kebanggaan masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, yang kini resmi mengukir sejarah gemilang di kancah nasional.

By BABATOPA, Jurnalis Kampung

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan Kue Lapis Sanana sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2026. Keputusan ini lahir setelah melalui jalan panjang pengusulan dan seleksi ketat yang dikawal oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula, di mana Lapis Sanana berdiri berdampingan dengan tradisi luhur Lom Poa Do Hoi hingga lolos dalam Sidang Nasional WBTb.

Bagi masyarakat Sula, membuat Lapis Sanana bukan sekadar meracik bahan, melainkan sebuah ritual kesabaran. Dibuat dari perpaduan sempurna tepung terigu, gula pasir, telur, susu, mentega, serta sentuhan rempah nan harum seperti vanili dan kayu manis, kue ini dimasak dengan cara yang kian langka di era modern.

Adonan dituang dan dibakar lapis demi lapis di dalam wadah khusus menggunakan kayu bakar, dengan ngura-ngura (penutup tradisional yang terbuat dari tanah liat) membara di atasnya. Proses yang rumit ini memakan waktu hingga lima jam lamanya demi menghasilkan tekstur yang begitu lembut, manis yang pas, serta ketahanan alami hingga satu pekan tanpa pengawet. Tak heran jika penganan ini berharga istimewa di pasaran, sepadan dengan jerih payah pembuatnya.

Setiap gigitan Lapis Sanana membawa cerita tentang filosofi hidup orang Sula. Kue ini melambangkan umur panjang, kebahagiaan, dan kemakmuran. Sementara struktur lapis demi lapisnya mencerminkan nilai kesabaran, keindahan, serta ketangguhan dalam menjalani proses kehidupan.

Kehadirannya selalu dinanti dalam setiap perayaan hari besar keagamaan maupun dalam ritual adat sakral seperti saro badaka matapia bakai (adat perkawinan). Ada kepercayaan turun-temurun di Sula: semakin banyak lapisan pada kue lapis yang disajikan, semakin berlimpah pula rezeki yang akan diperoleh.

Kini, Lapis Sanana tidak hanya menjadi primadona kuliner yang dicari sebagai oleh-oleh khas Kepulauan Sula. Lebih dari itu, pengesahannya sebagai WBTb—yang disusul dengan pencatatannya sebagai Indikasi Asal yang dilindungi di bawah Kementerian Hukum—menjadi perisai kuat untuk menjaga keaslian, identitas, dan marwah budaya masyarakat Sula agar tetap lestari di tengah zaman.

Dari tanah Sula untuk Indonesia, Lapis Sanana membuktikan bahwa tradisi, ketulusan tangan leluhur, dan rasa yang autentik akan selalu menemukan tempat terhormat di hati bangsa. ***

Bacaan Sahabat JS  Nikmati Proyek Mangkrak, Kadis Kesehatan dan Bupati Sula "Seng Pusing" Ancaman DBD Bagi Warga