HUKUMKepulauan SulaMaluku Utara

Suara Muhasabah dari Benteng Tua : Pesan Leluhur Berujung Mulut Prabowo jadi “Bubur” | IMM Desak APH Usut Pemukulan Aktifis

×

Suara Muhasabah dari Benteng Tua : Pesan Leluhur Berujung Mulut Prabowo jadi “Bubur” | IMM Desak APH Usut Pemukulan Aktifis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pemukulan Aktifis IMM Kepulauan Sula di depan Benteng De Ver Watching Alting Sanana, Ahad, 31 Mei 2026

Di tengah cuaca cerah yang menyertai Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Sula ke 23, Ahad, 31 Mei 2026, sebuah peristiwa tak terduga mengguncang Benteng De Ver Watching Alting Sanana. Saat para pejabat di podium sedang dalam ke-eforia-an merayakan hari jadi, suara keras dari atas benteng batu kuno bergema. Itu bukanlah suara terompet kemenangan, melainkan jeritan suara protes dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Kabupaten Kepulauan Sula.

JScom | KEPULAUAN SULA – “Salahkah mahasiswa berteriak dari atas Gedung tua ketika suara mereka di jalanan diabaikan?” sebuah pertanyaan retoris yang menggugah. Bagi mahasiswa IMM, aksi dari atas benteng ini bukanlah pilihan pertama, melainkan solusi terakhir. Ketika suara protes di jalanan hanya dianggap sebagai bising biasa, mereka memilih tempat bersejarah untuk menuntut keadilan.

Prabowo Sibela, Ketua IMM Cabang Kepulauan Sula, memimpin aksi tersebut dengan harapan bernilai juang. “IMM mendesak aparat penegak hukum untuk serius mengusut berbagai kasus yang menjadi perhatian publik,” tegasnya, dengan suara yang bergetar menahan haru.

“Torang semua punya nurani, seng kasih (tega) lihat daerah begini-begini saja… tidak ada kemajuan, tidak ada perkembangan, pembangunan mangkrak, korupsi meningkat.”

Niat tulus menyampaikan aspirasi berujung tragis. Keriuhan terjadi ketika massa aksi berupaya menyampaikan tuntutan. Prabowo Sibela diduga menjadi korban represifitas. Saat situasi memanas, ia diserobot dan dipukul, menyebabkan luka di bagian bibir serta giginya yang dilaporkan goyang.

ilustrasi

Aksi tersebut, yang sejatinya berupa refleksi atas realisasi pembangunan, pemerintahan, dan pelayanan publik yang ditengarai amburadul, justru berakhir dengan tindakan represif yang sangat disayangkan.

Slogan “DAD HIA TED SUA” terasa jauh di tengah pesta “goyang pinggul” poco=poco yang marak diadakan menjelang HUT oleh Bupati Perempuan Bernama Fifian Adeningsih Mus, berbanding terbalik dengan luka borok proyek-proyek mangkrak yang terus menganga.

Aksi IMM ini bukan sekadar protes biasa; itu adalah ajakan paksa untuk bermuhasabah. Dari atas benteng kuno, mahasiswa mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas berbagai dugaan kasus korupsi, termasuk kasus korupsi BTT Tahun 2021, Gedung Puskesmas, Laboratorium Kesehatan, Gedung dan Pelayanan RS Pratama, Infrastruktur Jalan, hingga proyek Normalisasi Kali/Sungai yang diduga asl-asalan dan fiktif.

“Segera panggil dan periksa Bupati Kabupaten Kepulauan Sula Fifian Adeningsih Mus, Sekda Muhlis Soamole, dan sederet pejabat lain,” teriak Prabowo, menantang para aparat penegak hukum dan para penguasa untuk menengok nurani.

Suara di atas Benteng De Ver Watching Alting akan terus bergema, bukan sekadar sebagai kenangan buruk di hari jadi, tetapi sebagai pengingat abadi bahwa di tengah sorak-sorai pesta, masih ada nurani rakyat yang tersakiti dan menunggu keadilan. Semoga gema ini menggugah para pejabat daerah dan publik untuk bermuhasabah, karena HUT seharusnya menjadi momen refleksi, bukan eforia pembiaran. (redJS-SK)

Bacaan Sahabat JS  Bareskrim Polri Ungkap Jaringan Baru Gembong Narkoba Fredy Pratama