HUMANIORAKepulauan SulaMaluku Utara

“Pesta Kue” di Cimanggis | Aroma Kampung Halaman dan Gotong Royong Mama-Mama Jelang Deklarasi KKSK

×

“Pesta Kue” di Cimanggis | Aroma Kampung Halaman dan Gotong Royong Mama-Mama Jelang Deklarasi KKSK

Sebarkan artikel ini

Menjelang momen bersejarah Deklarasi dan Pengukuhan Kerukunan Keluarga Sula Kepulauan (KKSK) yang dijadwalkan pada Ahad, 14 Juni 2026 mendatang, getaran kerinduan dan semangat kebersamaan itu begitu terasa memuncak. Kerinduan pada kampung halaman sering kali tak berwujud kata-kata besar. Bagi orang Sula di perantauan, ia kerap hadir dalam aroma kelapa sangrai, manisnya gula merah, atau kehangatan rempah yang mengepul dari dapur-dapur kecil mereka.

JScom | JAKARTA – Ketika selembar undangan resmi mulai disebarkan, sebuah gerakan spontan yang sarat nilai kultural langsung tercipta. Tanpa komando dari ketua panitia, tanpa instruksi formal dari atas panggung, Mama-mama Sula—para tiang penyangga tradisi—langsung bergerak. Mereka membuka lembaran digital, menyusun sebuah daftar panjang yang bukan sekadar deretan menu, melainkan manifestasi dari tali persaudaraan yang tak putus: list Kue, Buah-buahan, dan Minuman, –bawaan sukarela untuk kenduri bersama.

Kebiasaan ini adalah warisan turun-temurun yang masih kokoh mengakar di kampung-kampung Kepulauan Sula sejak dulu. Di sana, sebuah hajatan atau kenduri tak pernah menjadi beban satu orang semata. Rumah yang punya hajat adalah rumah bersama, dan beban itu dipikul beramai-ramai.

Rupanya, meski kini terpisah ribuan mil dari tanah Baanohi, Pia Sua—khususnya para ibu—bersemangat hadir di D’Kampung Tipar, Cimanggis. Apalagi, helatan kali ini terbilang sakral dan resmi, yakni Deklarasi dan Pengukuhan KKSK yang dirangkai dengan indahnya silaturahmi Halal Bihalal.

Grup WhatsApp Sanohi KKSK mendadak riuh. Ponsel pintar tak berhenti berdenting, bukan oleh perdebatan protokoler yang kaku, melainkan oleh serbuan nama-nama penganan khas yang siap dimasak. Hanya dalam hitungan jam sejak daftar dibuka, halaman obrolan dipenuhi kiriman aneka macam kue, buah-buahan tropis, hingga minuman hangat tradisional.

Semua bergerak atas dasar kerelaan. Ada yang menawarkan diri membuat Nasi Pulu Unti, ada yang dengan cekatan menyiapkan bahan untuk Nagasari Balangan, hingga Lapis Sanana yang legendaris. Tak ketinggalan, kehangatan Aer Goraka plus Kenari yang siap menemani obrolan melepas rindu, bersanding dengan Asida Arab, Roti Coe Unti Kalapa, Tart Kalapa, Wajik Gulmer, Kue Lumpur, hingga hidangan modern seperti Bolu Ketan Hitam Keju Lumer dan Pisang Ijo VVIP.

Wasekjen KKSK merangkap Sekretaris Panitia Deklarasi, Nabiha Ivana Alwi, tak mampu menyembunyikan rasa takjub dan harunya saat berbincang dengan media ini. Ia mengakui bahwa partisipasi para undangan, teristimewa Mama-mama Sula, benar-benar luar biasa dan patut diacungi jempol.

“Meski aksi seperti ini sudah biasa terjadi di setiap acara bakudapa (bertemu) Orang Sula, tapi kali ini semangat Mama-mama patut diacungi jempol dan diapresiasi setinggi-tingginya. Ini adalah bentuk nyata dari kebersamaan dan dukungan tulus untuk Deklarasi KKSK,” ujar Ivana dengan nada penuh apresiasi.

Menurut Ivana, daftar partisipasi berupa kue, buah, dan minuman ini diprediksi akan terus bertambah panjang mengingat pintu kontribusi baru saja dibuka kemarin. Angka dan jenis makanan yang terus naik mencerminkan betapa besarnya rasa kepemilikan warga diaspora Sula terhadap organisasi ini.

Lebih dari sekadar urusan logistik atau pengisi meja prasmanan, deretan hidangan ini adalah simbol perekat sosial. Melalui rasa dan aroma kue-kue tradisional inilah, memori kolektif masa kecil di kampung halaman dihidupkan kembali di tanah rantau. Acara resmi deklarasi nanti tidak akan terasa kaku, melainkan akan menjelma menjadi sebuah ruang keluarga yang hangat, akrab, dan penuh tawa.

Katong berharap,” pungkas Ivana penuh harap, “semangat yang ditunjukkan oleh Mama-mama ini menjadi awal dan fondasi yang sangat baik bagi perjalanan KKSK ke depan. Semoga lembaga ini benar-benar bisa mewujud sebagai Rumah Bersama bagi seluruh diaspora Kepulauan Sula, di mana pun kaki katong berpijak.” (Red-JScom)

Bacaan Sahabat JS  Pastikan 69 Atlit dari 11 Cabor Berlaga di Tobelo, Ini Penjelasan KONI Soal Absennya Sepakbola...