Langkah kaki itu masih terasa canggung saat pertama kali menyentuh dermaga. Bagi seorang pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Kepulauan Sula, Maluku Utara, sambutan hangat adalah sebuah keniscayaan yang sakral. Sebelum riuh rendah kota dan aktifitas pelabuhan menyapa, biasanya sebuah ritual tua bernama Joko Kaha—atau yang dalam bahasa lokal dikenal sebagai Bakayab Hai (Injak Tanah)—harus ditunaikan. Dan, Tetabuhan tifa membawa gerak gemulai penari RONGGENG GALA, pelengkap hidangan serimoni yang membawa damai di Negeri Tua, Haisua.
By BABATOPA, Jurnalis Kampung
SEBUAH untaian bunga dikalungkan di leher. Sentuhan tanah Sula pada telapak kaki sang tamu menjadi tanda bahwa ia tak lagi sekadar orang asing, melainkan bagian dari keluarga besar yang dilindungi oleh adat. Namun, ritual ini hanyalah sebuah pembuka.
Kehangatan sejati masyarakat Sula baru benar-benar membuncah ketika tabuhan tifa mulai bertalu-talu, memanggil sepasang demi sepasang penari untuk bergerak lincah.
Inilah Tari Ronggeng Gala, sebuah manifestasi sejati, visual dari rasa sukacita, kehormatan, dan keterbukaan hati Matapia Hai Sua, —sebutan untuk warga Kepulauan Sula.
Tari Ronggeng Gala bukan sekadar gerak badan yang estetis. Ia adalah sebuah dialog tanpa kata yang ditarikan secara berpasangan oleh kaum pria dan wanita.
Di bawah langit Sula, tarian ini merajut pesan mendalam tentang persatuan, kesatuan, pergaulan yang sehat, dan tali persaudaraan yang erat.
Jika Anda mengamati lebih dekat, ada dualisme harmoni indah yang disuguhkan dalam setiap gerakannya:
- Gerakan Penari Wanita: Berjalan gemulai mengikuti tiupan suling (lofe) yang mendayu. Jemari tangan mereka bergoyang lembut membentuk formasi bunga—sebuah simbol keaslian dan kepolosan, lambang keperawanan raga, kesucian hati, dan kehormatan wanita Sula.
- Gerakan Penari Pria: Bergerak tegas dan dinamis mengikuti hentakan tifa (pakar) dan gong (saragi) yang bertenaga. Langkah mereka melambangkan keperjakaan, keberanian, dan semangat yang menyala untuk melindungi seisi Negeri Tua, Kepulauan Sula.
Keindahan ini semakin paripurna dengan balutan busana adat yang kaya makna. Para penari wanita tampil anggun mengenakan baju Sarung dipadu kain Songket yang memesona, dengan hiasan Kembang Goyang, Sanggul, dan Ron Konde yang mempertegas keanggunan.
Sementara para pria tampil gagah mengenakan celana panjang dan Tuala (ikat kepala) lipat, sebuah simbol ketakwaan yang mendalam kepada Sang Pencipta, Ilahi Rabbi.
Catatan Historis & Asal-Usul:
Ronggeng Gala merupakan warisan turun-temurun yang telah hidup selama ratusan tahun di Kepulauan Sula, dan berkembang seiring dengan masuknya pengaruh Kesultanan Ternate dan penyebaran Islam di wilayah ini.
Secara historis, tidak ada catatan digital atau manuskrip tunggal yang merujuk pada “tahun pasti” penemuan tarian ini. Tari Gala lahir dari tradisi lisan (oral tradition) masyarakat adat Sula yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sistem penyambutan tetatmu dan pejabat negeri hingga kesultanan, maupun di acara ritual pasca-panen dan pesta rakyat.
Membicarakan Ronggeng Gala tidak bisa dilepaskan dari lanskap geografis tempat ia bertumbuh. Kepulauan Sula adalah wilayah yang eksotis. Dahulu, sebelum tahun 2013, kabupaten ini berdiri kokoh di atas tiga pulau besar: Sulabesi, Mangoli (Mangole), dan Taliabu. Namun, dinamika otonomi daerah mengantarkan Pulau Taliabu mekar menjadi kabupaten sendiri.
Kini, dengan jargon kebersamaan yang terus dirawat, Kepulauan Sula berdiri anggun dengan luas wilayah daratan mencapai 13.732,7 km². Secara astronomis, negeri yang kaya akan potensi laut dan kelapa ini terletak di antara 125°19’42–126°29’11 Bujur Timur dan 01°45’08–02°28’39 Lintang Selatan.
Meski minus Pulau Taliabu, pesona Sula tidak pernah luntur. Kabupaten ini ditopang oleh dua pulau utama, yakni Pulau Sulabesi dan Pulau Mangole, serta dipagari oleh 17 pulau sedang dan kecil. Seluruh wilayah ini terbagi ke dalam 12 kecamatan (6 kecamatan definitif dan 13 kecamatan pemekaran berdasarkan Perda Nomor 2 Tahun 2006) serta merangkul 80-an desa. Di setiap sudut desa-desa inilah, Ronggeng Gala terus dirawat seperti menjaga nyala api di tengah badai.
Mengundang Dunia Lewat Festival Kebudayaan Sula
Jika dahulu Tari Gala hanya bisa disaksikan saat menyambut petinggi kesultanan, pejabat negara, atau saat merayakan pesta rakyat pasca-panen di pelosok desa, kini tarian ini telah melompat ke panggung yang lebih besar.
Pemerintah daerah bersama masyarakat adat kini mengemas Tari Gala sebagai salah satu sajian utama dalam kalender pariwisata tahunan, seperti Festival Tanjung Waka atau pameran budaya daerah.
Dalam festival ini, ratusan pasang penari Gala seringkali dihadirkan secara kolosal di tepi pantai Tanjung Waka yang berpasir putih di Pulau Sulabesi, menciptakan pemandangan yang magis dan emosional bagi para fotografer serta wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tari Gala adalah pengingat betapa indahnya keberagaman yang dirayakan dengan harmoni. Melalui hentak tifa dan lambaian tangan pembentuk kelopak bunga.
Melalui Ronggeng gala, Haisua selalu berbisik kepada dunia: Siapa pun Anda, seratus kali Anda melangkah pergi, pintu rumah kami selalu terbuka untuk menyambut Anda kembali. ***




















