Uncategorized

GABALIL HAISUA | Tete Dodi, “The Strong Man of Sulabesi” Penakluk 135 Kilometer di Usia Senja

×

GABALIL HAISUA | Tete Dodi, “The Strong Man of Sulabesi” Penakluk 135 Kilometer di Usia Senja

Sebarkan artikel ini
Tete Dodi, The Strong Man Of Sulabesi, Peserta Tertua di Gabalil Haisua 2026

Di bawah terik matahari Maluku Utara yang menyengat dan hembusan angin laut Kepulauan Sula, sebuah sejarah personal baru saja terukir. Di GABALIL HAISUA, di antara 300-an peserta yang memadati Benteng Sejarah De Ver Watching Alting, juga di sepanjang lintasan Gabalil Haisua 2026, terselip satu sosok yang mencuri perhatian publik. Tete Dodi namanya. Di usianya yang telah menyentuh 86 tahun, ia bukan sekadar penggembira, melainkan bukti nyata bahwa semangat leluhur tak luntur dimakan usia.

Oleh : Babatopa, Jurnalis Kampung

Kakek FATDO WEU alias Tete DODI bersama Pembina GABALIL HAISUA 2026H. ADNAN HUSEIN BELFAS usai menaklukan 135 Kilometer Keliling Pulau Sulabesi, Foto : Medsos, Terobos

GABALIL HAISUA Menghidupkan Tradisi Leluhur

Gabalil Haisua bukanlah sekadar perlombaan lari atau jalan santai biasa. Ini adalah sebuah upaya besar untuk membangkitkan kembali tradisi sakral masyarakat Sula dolo-dolo: berjalan kaki mengelilingi Pulau Sulabesi sejauh 135 kilometer.

Rute ini bukanlah medan yang mudah, namun bagi FATDO WEU, Tete Dodi, Kakek Penjual Madu Sula keliling ini,  setiap jengkal tanah yang ia pijak adalah bentuk penghormatan kepada para pendahulu, Pia Matua HaiSua.

TETE DODI bersama Ketua Divisi Humas dan Publikasi GHS 2026, SABIRIN SANGADJI

Tete Dodi bergabung dalam Tim Tugu Fogi, sebuah regu berisi 10 orang, yang berasal dari Desa Fogi. Di tengah rekan se-tim yang jauh lebih muda, pria berusia delapan dekade ini justru menjadi poros energi yang luar biasa.

Empat Hari Menembus Batas Fisik

Perjalanan panjang ini dimulai dari titik bersejarah, Benteng De Ver Watching Alting, tepat di depan Istana Daerah Basanohi Kepulauan Sula, desa Fagudu. Selama empat hari dan lima malam, fisik dan mental para peserta diuji melalui rute yang melelahkan:

  • Hari Pertama: Menuju Utara menuju Pos I di Desa Nahi untuk bermalam.
  • Hari Kedua: Melanjutkan langkah kaki menuju Pos II di Desa Fuata. Bermalam.
  • Hari Ketiga: Menuju titik eksotis berpasir putih Tanjung Waka yang indah di ujung Selatan Pulau Sulabesi, Pos III di Desa Fatkauyon.
  • Hari Keempat: Puncak perjalanan menuju Posko IV di Desa Fat Iba.

Di Desa Fat Iba, ujian terakhir menanti. Seluruh peserta ditantang untuk menguji kecepatan, kekompakan, terakhir mereka menuju garis finish, kembali ke benteng tua Benteng De Ver Watching Alting di pusat kota.

Kakek DODi, SI Penjual Madu Sula Keliling yang selalu Strong….

Sang Legenda Hidup di Garis Finish

Banyak yang meragukan apakah seorang kakek berusia 86 tahun mampu bertahan hingga akhir. Namun, Tete Dodi mematahkan segala skeptisisme tersebut. Dengan kondisi fisik yang tetap prima, ia tidak hanya bertahan, tetapi berhasil masuk ke garis finish bersama rekan-rekan Tim Tugu Fogi dengan kepala tegak.

Ketangguhannya menjadi inspirasi bagi ratusan peserta lainnya. Saat peserta muda mulai kelelahan, kehadiran Tete Dodi di barisan depan menjadi cambuk semangat yang tak ternilai harganya. Keberhasilannya menuntaskan rute 135 km ini membuktikan bahwa “kekuatan” bukan hanya soal otot, tapi soal keteguhan hati dan semangat leluhur yang ada di dada.

Kakek FATDO WEU, Tete Dodi salah seorang Tim TUGU FOGI, The Strong Man Of Sulabesi

“Tete Dodi bukan sekadar peserta. Ia adalah simbol hidup dari ketangguhan manusia Sula. Ia layak menyandang gelar The Strong Man of Sulabesi.”

Melalui sosok Tete Dodi, perhelatan Gabalil Haisua 2026 mengirimkan pesan kuat: bahwa tradisi akan selalu hidup selama ada jiwa-jiwa seperti beliau yang bersedia melangkah jauh untuk menjaganya. ***

Bacaan Sahabat JS  Tangguh..., ISDA Resmi Jadi Peserta PILKADA SULA, Setelah Lewati Badai dan Intimidasi