BERITAHUMANIORANASIONAL

Di Balik Pena Jurnalis dan Kuasa Bisnis || Perjalanan Inspiratif Ahmad Assagaf

×

Di Balik Pena Jurnalis dan Kuasa Bisnis || Perjalanan Inspiratif Ahmad Assagaf

Sebarkan artikel ini
AHMAD ASSAGAF, S.T.

Suara deru mesin cetak di masa lalu mungkin kini telah berganti dengan deru kemajuan zaman, tetapi jejak langkah seorang pencari berita di tanah Maluku Utara tetap terekam abadi. Bagi Ahmad Assagaf, ST, hidup bukanlah sekadar tentang bagaimana mencari penghidupan, melainkan tentang bagaimana merajut kepedulian, merawat idealisme, dan mendedikasikan diri sepenuhnya bagi kemaslahatan orang banyak.

JScom | JAKARTA – Dari bilik-bilik redaksi sederhana hingga menakhodai berbagai lini bisnis dan organisasi strategis, Ahmad membuktikan satu hal: integritas seorang jurnalis sejati tidak akan pernah luntur, betapapun tinggi ia melangkah.

Akar Jurnalisme: Dari Kuli Tinta hingga Lorong Reformasi

Langkah besar Ahmad Assagaf ST bermula dari bawah. Di era transisi reformasi sekitar akhir 90-an hingga awal 2000-an, ketika angin kebebasan pers berhembus kencang, ditandai pengesahan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pada pada tanggal 23 September 1999 oleh Presiden B.J. Habibie, — Ahmad memilih jalan sunyi namun penuh makna sebagai penulis berita atau jurnalis kampung di Ternate.

Profesi ini memberinya ruang batin yang luas untuk melihat langsung masalah publik, menumbuhkan kepekaan dan rasa terhadap penderitaan rakyat, serta membangun jaringan pertemanan lintas kalangan.

Bukan perkara mudah merintis media di provinsi baru yang baru diresmikan. Karena di Ternate kala itu belum ada mesin cetak mandiri, proses produksi koran mingguan tempatnya bernaung—Buletin Simpati—harus melibatkan perjalanan lintas laut hingga ke Manado, Sulawesi Utara.

Bacaan Sahabat JS  Gelisahkan Fakta Pilu, Ini Surat "Cinta" Ekonom Boboti APBD 2026 Malut

Di sinilah sisi ketangguhan Ahmad diuji. Selain menulis berita, ia juga merangkap tugas sebagai pencari iklan dan komersial koran. Benturan antara idealisme seorang kuli tinta dan kerasnya dunia pemasaran justru menempahnya menjadi pribadi yang piawai membaca psikologi pasar serta memahami relasi kuasa antara media dan dunia usaha.

Gemblengan Kampus, Menwa, dan Darah Juang Gerakan

Sebelum merajut mimpi di tanah kelahiran, pemuda lulusan SMA Negeri 1 Ternate ini menyeberang ke ibu kota. Pada tahun 1990, ia resmi tercatat sebagai mahasiswa Universitas Darma Persada (UNSADA) Jakarta. Di kampus, Ahmad tidak menyia-nyiakan waktu hanya dengan duduk di ruang kuliah. Fisik dan mentalnya digembleng melalui Resimen Mahasiswa (Menwa), membentuk karakternya menjadi sosok yang gagah, tegas, dan disiplin tinggi.

AHMAD ASSAGAF ST, selalu enjoi di setiap momen

Kepekaan sosialnya semakin matang tatkala ia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pilihan ini tentu tak lepas dari teladan sang kakak tercinta, almarhum Muhammad Iqbal Assagaf—seorang tokoh dan politisi ulung yang dikenang luas sebagai aktivis Islam terkemuka, mantan Anggota DPR RI dari Partai Golkar, Ketua Umum PB PMII (1988–1991), hingga Ketua Umum PP GP Ansor (1995–1999).

Periode tersebut menjadi lembaran sejarah yang krusial. Gelombang perjuangan pemekaran Provinsi Maluku Utara tengah bergemuruh di Jakarta. Ahmad bersama para aktivis bahu-membahu memperjuangkan aspirasi tanah kelahiran, dengan sang kakak di Komisi I DPR RI yang mengawal ketat asa rakyat Moloku Kie Raha hingga akhirnya Maluku Utara resmi disahkan berdasarkan UU No. 46 Tahun 1999.

Bacaan Sahabat JS  Nikmati Proyek Mangkrak, Kadis Kesehatan dan Bupati Sula "Seng Pusing" Ancaman DBD Bagi Warga

Jejak organisasi Ahmad kian terbentang luas. Ia dipercaya menjadi Pengurus Pusat GP Ansor periode 1995–2000 dan berselancar dalam kehangatan khidmat Nahdlatul Ulama di bawah kepemimpinan almarhum K.H. Ahmad Hasyim Muzadi hasil Muktamar Lirboyo hingga 2010.

Transformasi Sang Pengusaha: Naluri Jurnalis Membaca Peluang

Berbekal ketajaman insting, pemahaman isu publik yang mendalam, serta jaringan sponsor yang kokoh dari masa lalunya di dunia pers, Ahmad melakukan lompatan besar. Ia beralih menapaki dunia bisnis di sektor riil yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Jatuh bangun, keraguan, hingga ujian kebangkrutan pernah ia lewati. Namun, bagi Ahmad, setiap hambatan adalah babak baru untuk berinovasi. Bisnisnya kini merambah cepat ke berbagai penjuru—mulai dari Kota Ternate, Kota Tidore (Sofifi), Halmahera Tengah, Halmahera Timur, hingga kini tengah menjajaki ekspansi strategis ke Kota Palu, Sulawesi Tengah.

AHMAD ASSAGAF, ST, di salah satu acara sosial kemasyarakatan

“Ya, semua berkat naluri seorang jurnalis. Semakin banyak kita memotret fakta sosial, ekonomi, politik hingga teknologi, maka seorang jurnalis tentu punya cara pandang terhadap sebuah masalah, sekaligus menyiasati solusinya,” kenang Ahmad bangga akan masa mudanya di dunia pers.

Saat Integritas Dibayar Tunai oleh Kepercayaan Publik

Kesuksesan finansial tidak membuat karakter dasarnya bergeser. Rekam jejak kebersihan hati dan integritas yang ia bangun sejak muda membuat publik kembali memanggilnya untuk mengemban berbagai amanah besar.

Bacaan Sahabat JS  Naskah Akademik Hak Angket Siap, PDIP Soroti 15 Kementerian dan Lembaga Terduga Penyimpangan Undang-Undang

Sempat digandeng masuk ke dalam jajaran pengurus inti Partai NasDem Maluku Utara di bawah kepemimpinan Dr. Ahmad Hatari, Ahmad akhirnya memilih mundur dari jalur politik praktis demi fokus mencurahkan energi membesarkan lini usahanya di daerah. Meski demikian, pintu pengabdian sosial dan kemasyarakatan justru semakin terbuka lebar baginya:

Ahmad kemudian Didaulat dan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI) Provinsi Maluku Utara, dengan misi besar membangkitkan prestasi atlet daerah.

Di Panggung Nasional, Ahmad resmi dilantik sebagai Anggota Dewan Kehormatan (DK) Persatuan Putra Putri Angkatan Darat (P3AD) Wilayah DKI Jakarta – Maluku Utara.

Terbaru, Ahmad lantas digandeng oleh Ketua Terpilih Aswar Salim untuk memegang posisi strategis sebagai salah satu Pengurus Harian FSP KEP SPSI Maluku Utara hasil Musda Mei 2026 lalu.

AHMAD ASSAGAF, ST jelang Pelantikan Pengurus Harian FSP KEP SPSI Maluku Utara, 2026

Di tengah kesibukan mengelola gurita bisnisnya, Ahmad kerap menghadapi dilema antara mengurus kepentingan pribadi atau mendedikasikan waktu untuk umat. Namun, berbekal kepekaan nurani seorang jurnalis tulen, semua itu mampu ia jalani dengan seimbang.

“Profesi wartawan telah membawa saya lebih awas dalam memastikan langkah dan hati, terutama bagi usaha dan kemaslahatan hidup bersama lainnya. Bagaimanapun, kita adalah makhluk sosial yang terus berinteraksi dan berkolaborasi,” tutup Ahmad Assagaf penuh makna. Sebuah potret hidup tentang bagaimana ketulusan dari bawah mampu menembus batas, membawa inspirasi nyata bagi tanah Maluku Utara dan Indonesia. ***