Cerita kelam Sepakbola Sula belum menemukan titik cahaya gemerlap. Kompetisi yang kerap digelar tak punya nilai dimata pembinaan dan seleksi atlit berbakat. Cabang Oharga yang kerap menyedot simpati dan lahirkan atlit lokal hebat, sebatas “habar” di Tanjung Waka hingga ke bibir selat Capalulu. KONI Kepulauan Sula “seng daftar” atlitnya ke PORPROV V Tobelo. Ada apa? “Iya, iya, silakan supaya terus dibahas panjang lebar, oke? Hmm betul, supaya isu ini terus dibahas sampai tuntas,” tantang Kamarudin Mahdi, Ketua KONI Kepulauan Sula. Rizky Pora mungkin bisa bersenyum getir atas tingkah Induk Olahraga Di Pulau Sulabesi ini.
JScom | KEPULAUAN SULA – Dari hamparan pasir putih Tanjung Waka yang eksotis, hingga deburan ombak yang menghantam bibir Selat Capalulu, sepak bola bukan sekadar olahraga bagi masyarakat Kepulauan Sula. Ia adalah napas, gairah yang menyatukan bapak-bapak di warung kopi, hingga anak-anak bertelanjang kaki yang mengejar bola plastik di lapangan kampung saat matahari mulai condong ke barat. Sula adalah tanah para petarung lapangan hijau. Dari rahim bumi Sula ini, nama besar seperti Rizky Pora lahir, tumbuh, dan akhirnya menguncang panggung Timnas Indonesia.
Namun sayang, narasi indah itu kini musti terbentur realitas yang getir. Cerita sepak bola Sula hari ini seperti berjalan di lorong gelap yang belum menemui titik cahaya gemerlap. Kompetisi lokal memang kerap digelar, piala-piala megah bergantian diangkat, namun semua itu rupanya tak lebih dari sekadar panggung seremonial tanpa arah pembinaan yang jelas.
Puncaknya terjadi pekan ini. Ketika hasil undian (drawing) cabang olahraga sepak bola pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Maluku Utara di Tobelo dirilis, nama Kepulauan Sula raib dari daftar. Sula absen. Sebuah kenyataan pahit yang langsung menyengat dada para pecinta “Suglela Bal” (sepak bola gila) di seantero negeri sula.
Mengapa cabang olahraga yang paling menyedot simpati publik ini justru ditinggalkan di rumah?
“Gagah di Pelantikan, Parah di Eksekusi”
Tudingan langsung mengarah tajam ke arah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kepulauan Sula. Di bawah nakhoda baru, Kamarudin Mahdi, yang menjabat untuk periode 2026–2030, KONI dinilai gagal total dalam membaca denyut nadi dan animo publik.
Kekecewaan mendalam itu disuarakan dengan lantang oleh Wawan, seorang penggemar fanatik sepak bola asal Sanana. Dengan nada masygul, ia tak mampu menyembunyikan kekesalannya atas kebijakan yang ia anggap keliru besar.
“Buat apa bikin kompetisi ini dan itu, kalau akhirnya hanya baran kau pon (berani di kandang). Kamarudin hanya menang di gaya dan bicara besar. Terus terang, kami kecewa dengan kebijakan tolol model begini,” semprot Wawan.
Kritik pedas juga mengalir dari elemen masyarakat lain. Mereka menilai ada lompatan logika yang cacat dalam proses persiapan kemarin. Bagaimana mungkin sebuah tim dibentuk tanpa melibatkan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Sula selaku induk organisasi resmi? Akibat keputusan sepihak tersebut, tim yang sempat berjalan dinilai tidak memiliki dasar pembinaan yang benar, komposisi pemain yang meragukan, serta persiapan teknis yang asal-asalan tanpa arah.
“Sangat memalukan. Ini sinyal kalau Ketua KONI dan jajarannya gagal paham soal urusan olahraga, khususnya sepak bola,” cibir warga lainnya. Publik melihat ada kontradiksi nyata: pengurus begitu gagah saat pelantikan, namun parah ketika masuk ke wilayah eksekusi dan pembinaan atlet.
Tantangan Balik dari Balik Telepon
Saat badai kritik menghantam, Kamarudin Mahdi akhirnya angkat bicara. Namun, alih-alih melempar kalimat penyejuk atau permohonan maaf, respons yang keluar justru bernada defensif dan penuh percaya diri.
Saat dikonfirmasi via telepon WhatsApp pada Minggu (24/5/2026), Kamarudin menegaskan bahwa urusan berangkat atau tidaknya sebuah cabang olahraga adalah hak prerogatif lembaganya yang dilindungi aturan.
“Keputusan terkait keikutsertaan cabang olahraga, penentuan atlet, hingga kebijakan pemberangkatan kontingen sepenuhnya merupakan ranah wewenang mutlak KONI. Hal ini sudah menjadi hak dan kewajiban KONI selaku koordinator induk olahraga di daerah sesuai aturan yang berlaku,” ujar Kamarudin dengan nada enteng.
Bagi KONI Sula, urusan ini sederhana: mereka punya kuasa penuh untuk menyaring siapa yang layak pergi ke Tobelo dan siapa yang harus tetap tinggal. Tanpa beban, Kamarudin bahkan menantang balik publik dan media untuk terus menggoreng isu ini.
“Iya, iya, silakan supaya terus dibahas panjang lebar, oke? Hmm betul, supaya isu ini terus dibahas sampai tuntas,” tantangnya dari balik telepon.
Merindukan Kejayaan Persambong
Sikap acuh tak acuh dari pemangku kebijakan ini tentu melukai sejarah panjang sepak bola Sula. Daerah ini bukanlah semenjana di peta kulit bundar Maluku Utara. Publik tentu belum lupa pada kejayaan Persambong Sula, klub profesional kebanggaan daerah yang pernah mencicipi kerasnya atmosfer Divisi Satu Liga Indonesia—level ketiga dalam struktur sepak bola nasional kala itu.
Persambong adalah bukti autentik bahwa tanah Sula adalah inkubator talenta berbakat. Rizky Pora hanyalah satu dari sekian banyak bukti hidup. Ia menempa bakat juniornya di akademi Persambong sebelum akhirnya melanglang buana ke klub-klub besar tanah air seperti Persita Tangerang dan Barito Putera.
Kini, ketika daerah lain sibuk mengirimkan putra-putra terbaiknya ke Porprov V Tobelo untuk mengejar mimpi dan mengasah mental bertarung, talenta-talenta muda Sula justru dipaksa menjadi penonton di rumah sendiri.
Kekuasaan dan wewenang mutlak memang ada di tangan KONI, namun hak untuk bermimpi bagi anak-anak muda Sula seharusnya tidak boleh dikebiri oleh ego birokrasi. Sampai kapan bakat-bakat emas Sula hanya akan menjadi cerita lisan yang berhembus dari Tanjung Waka hingga Selat Capalulu tanpa pernah diberi panggung untuk bersinar? Publik Sula menanti jawaban nyata, bukan sekadar tantangan debat yang tak berujung. (RdJsCom)




















