Maluku UtaraKepulauan SulaKESEHATAN

Nikmati Proyek Mangkrak, Kadis Kesehatan dan Bupati Sula “Seng Pusing” Ancaman DBD Bagi Warga

×

Nikmati Proyek Mangkrak, Kadis Kesehatan dan Bupati Sula “Seng Pusing” Ancaman DBD Bagi Warga

Sebarkan artikel ini

Kepulauan Sula adalah daerah dengan potensi penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD). Dinas Kesehatan plus Bupati-nya cuek dengan status yang di-warning oleh Dinas Kesehatan Propinsi Maluku Utara ini, yang konon sebagai kabupaten bebas DBD. Kadis dan Bupati akhirnya lebih enjoi menikmati proyek mangkrak daripada “Buang Uang” mencegah sebaran nyamuk yang bakal mematikan warganya. Pemda diam “sondor” tindakan dibalik pencitraan Sula Bahagia Kesehatan. Duh.

JScom | Kepulauan Sula – Ahad dinihari, 26/4/2026, masih gelap buta, ada kabar sedih melalui aplikasi perpesanan whatsapp. “Dinas Kesehatan ini bagimana e? Anak-anak yang sakit karena Demam Berdarah banyak mudel ini kong seng atur la basmi nyamuk ka,” demikian pesan singkat dari nomor 0821x76xx81x. Komunikasi perpesanan ini akhirnya berlanjut kepada kekecewaan public atas kinerja Bupati Fifian Adeningsih Mus dan Kadis Kesehatan-nya.

Salah satu ASN di lungkungan Dinas Kesehatan Kepulauan Sula ini juga mengungkap, bahwa ada korban meninggal akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Sumber informasi ini juga menyampaikan rasa kecewanya kepada petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemda Kabupaten Kepulauan Sula tidak melakukan penyemprotan atau Fogging Nyamuk, Tindakan memberantas nyamuk penyevar maut ini.

“Kami kecewa dari petugas kesehatan tidak melakukan Fogging, harusnya segera dilakukan jangan menunggu korban berjatuhan“, ujar ASN dalam chatingannya kepada awak media, (26/4).

Penelusuran www.jurnalswara.com di lapangan, bahwa Dinas Kesehatan dan Bupati Sula terlena atas prestasi pemberantasan nyamuk demam berdarah ini selama tiga tahun berturut-turut. Dinas Kesehatan Propinsi Maluku Utara pernah memberi apresiasi hebat atas keberhasilan pemerintah daerah Kepulauan Sula dalam memberantas nyamuk demam berdarah.

Tercatat selama kurun waktu 2019, 2020 dan 2021, atau di era Bupati Hendrata Thes, kabupaten Kepulauan Sula mencatat prestasi tidak ada pasien DBD (Demam Berdarah Dengue).

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Malut kala itu menyebutkan penderita DBD tersebar di delapan kabupaten/kota, terbanyak di Kabupaten Halmahera Utara yakni 63 orang.
Menyusul Kota Ternate sebanyak 38 orang, Kabupaten Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan masing-masing 17 orang, Kabupaten Pulau Morotai delapan orang, Kabupaten Halmahera Selatan lima orang, Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Halmahera Barat masing-masing tiga orang.

“Mungkin prestasi kemarin yang bikin Kadis dan Bupati Fifian terlena. Mereka tidak peduli dengan upaya pemberantasan nyamuk berbahaya,” semprot ASN ini. Padahal teknik pemberantasan sangatlah mudah. Untuk memutus rantai penularan cukup dengan pengasapan menggunakan insektisida (seperti piretrin/permetrin) untuk membunuh nyamuk dewasa, terutama Aedes aegypti pembawa DBD.

Salah seorang tenaga kesehatan dei RSUD Sanana, pagi ini membenarkan adanya korban meninggal karena Demam Berdarah. “Memang benar ada kematian yang disebabkan DBD dan hal ini juga telah dilaporkan ke Dinkes melalui Kabid P2P”, ujar Nakes ini.

Kadis Kesehatan Kepulauan Sula Hj. Fianty Buamona atau Hajjah Anti (mohon maaf bila salah menulis nama, red) tidak merespon konfirmasi dari awak media www.jurnalswara.com. Tidaklah berlebihan, jika sikap STECu (stelan cuek) Kadis ini mirip konfirmasi media soal pembangunan mangkrak yang di dinas kesehatan yang dipimpin sang Kadis. Diam membisu.   

Pelayanan kesehatan public di RS Pratama Dofa yang brengsek pasca peresmian mewah pada 11 Pebruari lalu, Pembangunan empat Puskesmas yang tidak berujung, higga dugaan proyek fiktif di dinas kesehatan, setidaknya jadi penguat wacana tidak becusnya OPD dan Bupati mengurus Kesehatan Masyarakat yang katanya Sula Bahagia Kesehatan. (red)

Bacaan Sahabat JS  Arahan Pimpinan "MANTA SAMUA", Paslon ISDA Lolos Daftar, Ada Kades Mulai Berkicau