HUMANIORAKepulauan SulaMaluku Utara

Rawat Maksaira di Tanah Rantau | Jelang Deklarasi, Pendiri KKSK Silaturrahim Ke Baileo Sangadji

×

Rawat Maksaira di Tanah Rantau | Jelang Deklarasi, Pendiri KKSK Silaturrahim Ke Baileo Sangadji

Sebarkan artikel ini
Para Pendiri KKSK bersilaturrahim ke Sesepuh Sla, Bang Haji Muhammad Ongen Sangadji, di Baileo Sangaji, Jakarta Timur. Foto : Istimewa

Duduk melingkar dengan suasana yang begitu sejuk, para pendiri KKSK bertamu dan bertukar pikiran dengan tokoh Maluku Utara, Anggota DPRD DKI Jakarta, Haji Muhammad Ongen Sangadji, SH. Pertemuan ini laksana oase. Di sinilah esensi basanohi (kekeluargaan) dan maksaira—sebuah konsep luhur tentang gotong royong, menjalin komitmen, serta menyatukan gagasan—diwujudkan secara nyata.

JScom | JAKARTA – Di tengah deru megapolitan Jakarta yang tak pernah tidur, ada sebuah sore yang berjalan melambat, khidmat, dan penuh dengan kehangatan khas Maluku Utara. Angin sore pada Rabu, 3 Juni 2026 lalu, seolah mengantarkan langkah kaki sejumlah tokoh pendiri Kerukunan Keluarga Sula Kepulauan (KKSK) menuju Baileo Sangadji di Jakarta Timur.

Sore itu bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sebuah “safari rindu”. Sebuah perjalanan kultural untuk menemui para sesepuh, mengetuk pintu hati para tokoh Orang Sula di perantauan, demi menjemput restu sebelum hari bersejarah itu tiba: Deklarasi dan Pengukuhan Pengurus Pusat KKSK yang dijadwalkan pada 14 Juni 2026 di Cimanggis, Kota Depok.

Membuka Ruang Basanohi, Menghidupkan Maksaira

Wakil Ketua Umum KKSK, Abdul Walid Mayau, atau yang hangat disapa Om Pagama, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya atas sambutan hangat sang sesepuh.

“Alhamdulillah, di sela kesibukannya, Bang Ongen meluangkan waktu untuk katong bakudapa (kita bertemu), bercerita panjang lebar soal masa depan KKSK,” ujar Om Pagama dengan dialek rasa persaudaraan yang kental.

Hari itu, gerbong pemikir KKSK hadir lengkap. Mulai dari jajaran Pembina seperti Ir. H. Zainuddin Umasangadji, Prof. Haris Fatgehipon, dan Kolonel (AU) TNI Fahril Bahnan, hingga jajaran pengurus harian seperti Dr (cand). H. Lukman Umafagur (Ketua Umum) dan H. Adnan Balfas (Bendahara Umum), serta Abdul Walid Mayau (Waketum). Mereka datang dengan satu niat tulus: mendengarkan petuah, menyerap arahan, dan memastikan langkah organisasi ini tetap berada di jalur pengabdian masyarakat.

Dalam obrolan yang mengalir santai namun sarat makna, Bang Ongen menitipkan pesan mendalam. Baginya, paguyuban ini harus menjadi motor penggerak utama dalam melahirkan Matapia Sua (Generasi/Manusia Sula) yang unggul di masa depan. KKSK diharapkan mampu merancang program-program yang menyentuh kebutuhan rill masyarakat Sula, terutama dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di berbagai bidang.

Namun, di atas semua program kerja tersebut, ada satu fondasi paling kokoh yang diingatkan oleh Bang Ongen agar KKSK tetap berdiri sebagai pelindung yang sejuk.

“Satu hal yang diingatkan oleh Bang Ongen, KKSK ini tidak boleh mengakomodasi kepentingan politik praktis anggotanya. KKSK harus menjadi rumah yang nyaman bagi semua orang Sula, tanpa ada sekat dan gesekan politik,” ungkap Om Pagama mengutip pesan bijak tersebut.

KKSK, Rumah Bersama yang Non-Politik

Pesan dari Baileo Sangadji itu ibarat gayung bersambut. Komitmen untuk menjaga KKSK tetap steril dari riuh rendah politik praktis ternyata sudah menjadi sumpah setia para pendiri sejak pertama kali berkumpul di kediaman H. Adnan Balfas pada 6 September 2025 silam.

KKSK lahir murni dari rahim kerinduan akan persatuan, bukan kepanjangan tangan dari syahwat kekuasaan.

“Apa yang disampaikan Bang Ongen sangat simetris dengan motivasi bersama para pendiri KKSK. Maka siapapun, dan dari partai atau kepentingan politik apapun, silakan berjalan sesuai tujuannya masing-masing, namun dengan catatan tidak membawa-bawa nama organisasi,” tegas Om Pagama dengan senyum teduh.

KKSK memilih jalan yang lebih mulia: menjadi payung teduh yang berkewajiban menghimpun seluruh anggotanya tanpa memandang warna bendera. Organisasi ini justru akan menjadi pendukung moral yang tulus bagi setiap anak suku yang ingin berkiprah membangun bangsa di wadah pilihan mereka, sembari memastikan tali silaturahim di tanah rantau tidak akan pernah putus hanya karena perbedaan pilihan.

Sore pun menutup ceritanya di Baileo Sangadji. Langkah kaki para pengurus melangkah pulang membawa bekal berharga. Menjelang hari deklarasi nanti, KKSK telah mengukuhkan dirinya bukan sekadar sebagai organisasi papan nama, melainkan sebuah rumah besar tempat bagi setiap rindu Diaspora Sula di Nusantara Indonesia. (red-JScom)

Bacaan Sahabat JS  DEKLARASI 14 Juni | Cimanggis Agreement : Lahirnya KKSK sebagai Rumah Besar Diaspora Kepulauan Sula