OPINI

TERNATE | Tanah Kaya Sejarah

×

TERNATE | Tanah Kaya Sejarah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ibnu Ammar
Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun

Jauh sebelum panji Merah Putih berkibar megah di bumi Nusantara, sebuah denyut peradaban yang berapi-api telah lebih dulu bergemuruh di ujung timur Indonesia.

DI BAWAH naungan megah serta ancaman muntahan lava Gunung Gamalama yang berdiri gagah di Pulau Ternate, hiduplah kelompok-kelompok manusia mandiri yang dikenal sebagai para penjaga adat yang disebut soa.

Mereka bukan sekadar orang-orang biasa, melainkan komunitas perkasa yang terpencar di empat titik bentangan alam yang menantang nyali, masing-masing membawa karakter, keringat, dan gelora hidupnya sendiri!

Empat kampung awal itu adalah Tabona dan Tubo, singgasana para pejuang tangguh yang mendiami sejuknya lereng-lereng gunung dan tanah vulkanik yang subur.

Serta di sisi seberangnya, membentang kampung Tobuleu dan Tabanga, garis pertahanan terdepan para nelayan ulung yang menantang ganasnya ombak lautan di pesisir pantai! Di sinilah rantai kehidupan ditempa dalam ujian alam yang keras.

Warga lereng gunung mengolah tanah dengan cangkul dan tangan kosong, merawat rempah-rempah purba demi bertahan hidup. Namun, mereka tidak bisa berdiri sendiri! Mereka mati-matian membutuhkan pasokan ikan segar dan garam laut untuk menyambung nyawa, yang hanya bisa diberikan oleh saudara-saudara mereka di pesisir.

Sebaliknya, para pelaut di pesisir pantai tidak akan mampu bertahan sehari pun tanpa hasil bumi, sayuran, dan umbi-umbian yang diturunkan dengan susah payah oleh warga dari puncak gunung. Hubungan mereka adalah sumbu api yang saling menghidupkan!

Tetapi, di balik jalinan hidup yang erat itu, api emosi sering kali tersulut liar di antara mereka. Ego kelompok kerap membakar akal sehat!

Sering kali tanah-tanah perbatasan di kaki gunung menjadi medan sengketa berdarah ketika populasi mulai mendesak. Perdebatan sengit tentang nilai tukar barang dalam sistem barter sering berujung pada caci maki dan kecemburuan sosial yang membara.

Belum lagi urusan air bersih—urat nadi kehidupan yang mengalir dari mata air Gunung Gamalama—yang kerap diperebutkan dengan amarah ketika musim kemarau panjang membakar bumi, membuat warga lereng atas dan pesisir bawah saling jegal.

Dan yang paling menyulut api perpecahan: beban keamanan! Warga pesisir di garis depan merasa menjadi tumbal yang menanggung risiko paling mematikan tanpa pernah merasakan ketenangan, sementara saudara-saudara mereka di pedalaman gunung dianggap duduk tenang tanpa peduli!

Dan malapetaka itu benar-benar datang menghujam! Di saat api perselisihan internal antarkampung belum juga padam, lautan luas tiba-tiba menghitam oleh kedatangan monster-monster pengacau mereka adalah kelompok bajak laut dan perompak ganas!

Mereka datang dengan kapal-kapal cepat, membawa pedang terhunus, membakar rumah-rumah panggung di pesisir, merampas hasil kebun, dan menyebar teror darah di Tobuleu dan Tabanga.

Pesisir Ternate menjerit dalam lautan api dan air mata! para perompak itu tertawa di atas penderitaan rakyat, mengira Ternate adalah mangsa empuk yang bisa dicabik-cabik karena mereka hidup tercerai-berai dan saling bertikai! Tetapi mereka salah besar!

Jeritan kesakitan rakyat pesisir akhirnya membakar nurani seluruh soa. Para tetua adat dari Tabona, Tubo, Tobuleu, dan Tabanga tersadar dari mimpi buruk egoisme. Dengan dada bergemuruh penuh amarah kepada musuh luar, mereka menghentikan segala percekcokan bodoh dan membanting meja perundingan!

Pada tahun 1257, dalam sebuah musyawarah sakral yang disaksikan oleh langit dan bumi Maluku, keempat kampung itu melebur menjadi satu kekuatan raksasa: konfederasi Moloku Kie Raha (Maluku Empat Gunung)!

Mereka menanggalkan ego, menyatukan darah, dan mengangkat seorang pemimpin agung bergelar Kolano untuk memegang kendali komando tertinggi. Dan pilihan itu jatuh kepada sang panglima perkasa, Baab Mashur Malamo, sebagai Raja pertama yang menyatukan Ternate!

Api persatuan itu langsung diuji di medan laga. Ketika armada bajak laut kembali datang dengan angkuh untuk menjarah pesisir, mereka tidak lagi mendapati kampung-kampung yang lemah dan terpecah! Kali ini, mereka berhadapan dengan barisan baja rakyat Ternate!

Warga lereng gunung turun gunung membawa tombak dan parang, bergabung dengan para pelaut pesisir dalam satu komando yang mematikan.

Ombak lautan Ternate mendadak merah oleh darah para perompak yang panik dan ketakutan. Dengan pekikan semangat perang yang menggelegar, armada bajak laut itu dihancurkan berkeping-keping, ditenggelamkan ke dasar laut, dan diusir secara hina dari tanah para raja!

Kemenangan itu membakar dunia: Ternate telah bangkit dari abu perpecahan, membuktikan kepada semesta bahwa persatuan adalah senjata paling mematikan yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapapun!

Seiring berjalannya waktu, benteng pertahanan Moloku Kie Raha yang berdiri kokoh dari persatuan empat soa tidak hanya mampu mengusir para perompak, tetapi juga menjelma menjadi mercusuar dagang yang gemilang di kawasan timur Nusantara. Di bawah kepemimpinan para Kolano, Ternate tumbuh menjadi magnet dunia.

Tanah vulkanik Gunung Gamalama memuntahkan kekayaan alam yang paling dicari umat manusia saat itu: rempah-rempah, khususnya cengkeh.

Aromanya yang harum memecah keheningan samudra, menarik kedatangan para saudagar dari seberang lautan—mulai dari Tiongkok, Persia, Arab, hingga Semenanjung Malaya. Pelabuhan-pelabuhan Ternate berdenyut dalam ritme perdagangan global yang sibuk, menjadikan pulau kecil ini kaya raya dan disegani.

Namun, kejayaan material itu ternyata belum cukup menyempurnakan martabat Ternate. Di tengah hiruk-pikuk dermaga dan transaksi rempah yang tiada henti, gelombang perubahan yang jauh lebih dahsyat merasuk perlahan ke dalam sanubari bumi Maluku yakni cahaya Islam.

Islam tidak datang dengan mengacungkan pedang penaklukan, melainkan meresap melalui jalur damai, dibawa oleh para saudagar muslim dan ulama yang singgah di pelabuhan Ternate.

Mereka tidak hanya berdagang rempah, tetapi juga membawa risalah tauhid, nilai-nilai keadilan, persamaan derajat, serta tata peradaban yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia. Ajaran ini menyapa nurani rakyat Ternate dengan kesejukan.

Para penguasa lokal dan masyarakat adat melihat bahwa Islam membawa pencerahan yang mengubah pandangan hidup mereka tentang alam semesta, kekuasaan, dan hubungan antarmanusia.

Transformasi besar ini mencapai titik didihnya menjelang akhir abad ke-15. Di bawah kepemimpinan Kolano Marhum, fondasi spiritual itu mulai dikukuhkan secara total.

Dan ketika tampuk kepemimpinan beralih kepada putranya yang visioner, Kolano Zainal Abidin, Ternate membuat keputusan paling monumental dalam sejarah peradabannya.

Sultan Zainal Abidin memahami betul bahwa sebuah imperium besar tidak hanya butuh benteng dan rempah, tetapi butuh hukum yang adil dan sandaran moral yang kokoh.

Ia pergi berguru langsung ke Giri di tanah Jawa pusat penyebaran Islam terkemuka saat itu untuk memperdalam ajaran agama dan tata kelola pemerintahan yang beradab.

Sekembalinya ke Ternate, ia menanggalkan gelar Kolano yang berakar pada tradisi lama dan secara resmi mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Ternate!

Deklarasi ini bukan sekadar pergantian gelar di atas singgasana. Ini adalah sebuah revolusi kultural dan politik yang maha dahsyat! Sistem pemerintahan ditata ulang berbasis syariat Islam yang berpadu harmonis dengan adat istiadat leluhur, melahirkan sebuah filosofi abadi:

Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Hukum rimba dan perpecahan masa lalu dikubur dalam-dalam, digantikan oleh tatanan birokrasi istana yang teratur, hukum yang adil bagi setiap warga, serta hubungan diplomatik yang setara dengan imperium-imperium besar dunia Islam lainnya.

Namun semakin kuat Ternate dengan revolusi tersebut nampaknya ada ancaman yang datang dari luar kesultanannya, mereka adalah bangsa penjajah

Pada. Tahun 1512. Kapal-kapal berlayar tinggi merapat membawa Francisco Serão bersama gerombolannya. Sultan Ternate, dengan keluhuran budi khas rakyat Nusantara, menyambut mereka dengan tangan terbuka. Memberikan tempat, berbagi hasil bumi, menganggap mereka saudara. Tapi apa balasannya? Air susu dibalas air tuba!

Begitu menguasai jalur perdagangan, bangsa Portugis menampakkan tabiat aslinya sebagai bangsa serigala. Mereka bukan pedagang; mereka adalah penjajah berdarah dingin! Di tanah leluhur Ternate, mereka membangun benteng-benteng batu, menodongkan meriam tepat ke arah istana kesultanan, dan memperlakukan rakyat seolah budak di rumah sendiri.

Puncak dari segala biadab itu terjadi pada tahun 1570. Di dalam benteng mereka yang angkuh, secara licik dan pengecut, Sultan Khairun Jamil dibunuh!

Mereka pikir dengan membunuh sang Sultan, api Ternate akan padam? Bodoh! Darah Sultan Khairun justru menyiram bensin ke dalam kobaran amarah seluruh rakyat Maluku. Langit Ternate bergemuruh.

Dari sudut-sudut kampung hingga puncak Gamalama, teriakan perang membahana menuntut balas atas darah sang pemimpin yang tumpah!

Munculnya Sang Singa Maluku: Sultan Baabullah Mengguncang Dunia

Dari abu duka itu, bangkitlah seorang putra mahkota dengan tatapan mata menyala-nyala penuh api dendam dan kehormatan: Sultan Baabullah, Sang Singa Maluku! Dengan suara yang menggelegar membelah angkasa, ia membuang jauh-jauh segala bentuk kompromi.

“Kalian telah mengkhianati persahabatan! Kalian menumpahkan darah ayahku di tanah suci ini! Enyahlah kalian dari bumi Ternate, atau kalian akan mati terkubur di sini!” serunya membakar semangat seluruh laskar.

Sultan Baabullah mengerahkan seluruh armada laut Ternate, mengepung benteng Portugis tanpa ampun. Siang dan malam, meriam kesultanan memuntahkan peluru, memutus segala pasokan makanan musuh. Portugis yang dulu sombong kini bertekuk lutut, merengek ketakutan di balik dinding batu mereka.

Dan pada tahun 1575, di bawah terik matahari Maluku, bangsa Portugis diusir keluar dengan kepala tertunduk dan ketakutan yang mencekam! Ternate membuktikan kepada dunia: tiada tempat bagi penjajah di tanah para ksatria!

Cakar Besi Spanyol dan Muslihat Licik VOC Belanda

Singa-singa Ternate tidak diberi waktu untuk beristirahat. Belum sempat debu pertempuran menguap, horizon laut kembali menghitam.

Spanyol datang dengan ambisi meriamnya, mencoba merebut apa yang telah direbut bangsa pendahulunya. Mereka bersekutu dengan musuh-musuh Ternate, mencoba mematahkan tulang punggung Moloku Kie Raha.

Tetapi perlawanan tidak pernah surut. Darah para ksatria terus mengalir, mewariskan nyali tanpa takut mati kepada generasi-generasi berikutnya.

Ketika Spanyol akhirnya terpukul mundur, badai yang jauh lebih dingin, licik, dan sistematis merangsek masuk: VOC Belanda!

Jika Portugis dan Spanyol datang dengan pedang terhunus di depan, Belanda datang menusuk dari belakang dengan meja birokrasi dan kontrak monopoli palsu.

Rempah-rempah Ternate dirampas paksa, pohon-pohon cengkeh ditebang (extirpatie) agar harganya jatuh di pasar Eropa, dan rakyat dipaksa berlutut kelaparan di atas tanah yang dulunya adalah lumbung kemakmuran dunia. Belanda mengira mereka bisa menjinakkan Ternate dengan rantai ekonomi dan tipu daya politik.

Ternate Melepaskan Belenggu: Merdeka atau Mati!

Mereka salah besar. Gen perlawanan yang diwariskan oleh para Momole purba dan Sultan Baabullah tidak pernah mati. Ia mengalir deras di setiap nadi pemuda Ternate!

Abad berganti, penderitaan rakyat berubah menjadi badai revolusi. Dari balik dinding-dinding istana yang ditekan kompeni hingga ke perkampungan nelayan dan lereng gunung, bisikan perlawanan berubah menjadi gelombang amarah yang dahsyat.

Rakyat Ternate menolak tunduk pada aturan kompeni. Mereka melawan lewat gerilya laut, penolakan upeti, hingga membakar semangat kebangsaan di seluruh daratan Maluku.

Perlahan tapi pasti, rantai-rantai belenggu kolonial yang mengikat erat digoyang hebat. Ternate merobek paksa cengkeraman penjajah, membuktikan bahwa kedaulatan bukan untuk diperjualbelikan, dan kemerdekaan adalah harga mati yang ditebus dengan nyawa.

Dari reruntuhan benteng musuh dan cucuran darah para pahlawan, Ternate berdiri tegak kembali—bukan sebagai jajahan, melainkan sebagai saksi abadi dari sebuah tanah yang menolak bertekut lutut di hadapan dunia!(*)

Bacaan Sahabat JS  HALLO... OM JAKSA & PAK POLISI..., PPK RS Pratama Dofa Sudah Bisa Diperiksa Atau Belum? Terima Kasih