Halaman Kraton Kesultanan Ternate mendadak hening ketika tabuhan ritmis mulai bertalu pada Sabtu sore, 17 Oktober 2026. Di bawah langit Maluku Utara yang magis, gerak dan irama Tari Laka Baka mulai mengalun. Pementasan ini bukan sekadar tontonan visual biasa bagi ribuan pasang mata yang hadir, melainkan sebuah pertunjukan spiritual yang menghidupkan kembali bisikan leluhur, menautkan jalinan persaudaraan antara tanah Sula dan tanah Ternate dalam satu detak jantung budaya.
JScom | TERNATE – Tarian sakral yang lahir dari rahim Desa Malbufa, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula ini, tampil megah dalam gelaran Festival Legu Tara No Ate. Kehadiran mereka merupakan amanat dan permintaan langsung dari Sultan Hidayat Mudaffar Sjah. Sebuah kehormatan yang luar biasa, sekaligus menjadi pembuktian nyata bahwa eksotisme budaya Sula memiliki tempat istimewa dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan pariwisata Nusantara.
Menilik sejarahnya, Laka Baka memang bukan tarian sembarangan. Di masa lampau, tarian ini merupakan simbol keluhuran budi ragam budaya Maluku Utara. Ia ditarikan sebagai ungkapan hormat yang tulus saat menyambut kedatangan Sultan, sekaligus menjadi pelipur lara dan ungkapan kasih saat mengantar pulang para tamu kehormatan. Di balik setiap gerakan tersimpan pesan mendalam: bahwa manusia saling membutuhkan, dan kebersamaan adalah kekayaan tertinggi yang tidak ternilai dengan materi.
Sore itu, sebanyak 14 putra-putri terbaik Sula yang terdiri dari 8 penari dan 6 penabuh, tampil memukau di atas panggung. Mereka bergerak selaras, membuktikan kepada dunia pariwisata internasional yang memadati festival bahwa warisan leluhur Indonesia akan tetap hidup abadi selama generasi mudanya mau bergandengan tangan untuk menjaganya.
Festival ini, yang dahulu akrab di telinga wisatawan sebagai Legu Gam dan kini bersolek dengan nama Legu Tara No Ate, seolah mengirimkan pesan kuat bagi industri pariwisata modern.
Merawat tradisi dan mempromosikannya ke dunia luar bukan berarti kita terjebak atau hidup di masa lalu. Sebaliknya, ini adalah cara cerdas membawa kebijaksanaan masa lampau untuk mengemas destinasi wisata yang berkarakter dan menerangi masa depan.
Pantauan media ini, suasana haru sempat menyelimuti pelataran kraton saat tokoh adat Sula, YM Naipon Ali, memberikan petuah mendalam pasca-tarian usai.
“Laka Baka ini adalah tarian asli Sula, tak dapat disamakan dengan tarian kreasi. Ia adalah identitas kita. Jika ia hilang, sebagian jiwa kita pun ikut hilang. Maka, lestarikanlah ia, bukan hanya di panggung, tapi di hati setiap generasi,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pada akhirnya, promosi pariwisata berbasis budaya seperti ini mengingatkan kita semua bahwa menjaga tradisi sama dengan menjaga jati diri bangsa. Tari Laka Baka telah menari dengan indahnya di Ternate, menyebarkan pesona magis Kepulauan Sula, sekaligus membisikkan pesan damai ke seluruh penjuru dunia: bahwa di tengah warna-warni perbedaan budaya Nusantara, kita semua adalah satu saudara.(EdhJScom)




















