Maluku UtaraBERITAHUMANIORA

Jejak Ahmad Assagaf, S.T.: Dari Semangat Pergerakan, Kemandirian Bisnis, hingga Ketulusan Berbagi

×

Jejak Ahmad Assagaf, S.T.: Dari Semangat Pergerakan, Kemandirian Bisnis, hingga Ketulusan Berbagi

Sebarkan artikel ini

Kesan pertama ketika berhadapan dengan Ahmad Assagaf, S.T. adalah perpaduan yang pas antara ketegangan prinsip, kewibawaan yang alami, dan kehangatan jiwa sosial. Sebagai seorang pengusaha muda asal Maluku Utara, pegiat sosial, sekaligus politisi, langkah kaki dan keseharian pria yang lahir dari kalangan Habaib ini kerap menjadi teladan—baik bagi keluarga, sahabat dekat, hingga khalayak luas.

Semangat pergerakan, tegas, disiplin dan bertindak terukur yang melekat pada Ahmad Assagaf hari ini bukanlah hasil instan. Akar itu telah dipupuk sejak ia mengenyam pendidikan dasar dan menengah.

Teman-teman seangkatannya di SMA Negeri 1 Ternate era 80-90-an mengenalnya sebagai salah satu siswa dengan penampilan terbaik. Tak sekadar mengenakan seragam yang selalu bersih dan licin, di saku celananya hampir selalu terselip sebuah sisir kecil—senjata andalan untuk merapikan kembali tatanan rambutnya yang mendadak berantakan. Singkat kata, Ahmad muda selalu tampil necis, rapi, dan memikat.

AHMAD ASSAGAF, S.T, Selalu Rapi di Setiap Kesempatan.

Karakter menarik itu berpadu dengan jiwa kemandirian yang mengagumkan. Ahmad sudah mengenal arti penting pencarian nilai ekonomi sejak remaja. Sahabat-sahabat sekolahnya kerap mengenang betapa bangganya Ahmad kala mentraktir teman-temannya di kantin sekolah dari uang hasil usahanya sendiri.

Lulus dari SMA di Ternate, langkahnya berlanjut ke ibu kota Jakarta. Pada tahun 1990, ia resmi terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Darma Persada (UNSADA), Jakarta. Di kampus, ia tak sekadar duduk manis menimba ilmu akademik. Ahmad menggembleng fisiknya dan kepemimpinannya melalui Resimen Mahasiswa (Menwa)—sebuah wadah yang makin mempertegas sosoknya yang gagah, tegas, dan disiplin.

Meniti Tempaan Pergerakan dan Rumah Besar Sang Kakak

Di luar Menwa, Ahmad memilih aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pilihan ini tak lepas dari jejak inspiratif sang kakak, (Alm.) Muhammad Iqbal Assagaf, seorang tokoh dan politisi ulung pada masanya.

Mengenang Sang Inspirator: Muhammad Iqbal Assagaf (lahir di Labuha, 12 Oktober 1957 – wafat 13 Februari 1999) adalah aktivis Islam terkemuka, mantan Anggota DPR RI dari Partai Golkar, Ketua Umum PB PMII (1988–1991), serta Ketua Umum PP Gerakan Pemuda (GP) Ansor (1995–1999).

AHMAD ASSAGAF, S.T : Semangat Kemanusian dan Peduli Berbagi

Lewat wadah PMII, Ahmad tak hanya mengasah kepekaan sosial, tetapi juga membangun jejaring dan ketajaman insting bisnisnya. Kiprahnya kemudian berlanjut ke PP GP Ansor, di mana ia menjabat sebagai Pengurus Pusat organisasi Nahdatul Ulama itu di periode 1995–2000.

Periode ini menjadi masa-masa krusial. Gelombang perjuangan pemekaran wilayah Maluku Utara sedang mencapai puncaknya di Jakarta. Sebagai aktivis di pusat pemerintahan, Ahmad bahu-membahu memperjuangkan aspirasi tanah kelahirannya. Sang kakak, Iqbal Assagaf, yang kala itu duduk di Komisi I DPR RI, menjadi mentor sekaligus perintis utama yang mengawal ketat aspirasi rakyat Moloku Kie Raha.

Buah dari perjuangan panjang tersebut akhirnya terwujud: 4 Oktober 1999: Maluku Utara resmi disahkan sebagai provinsi berdasarkan UU No. 46 Tahun 1999. Provinsi Maluku Utara resmi beroperasi secara mandiri pada 12 Oktober 1999.

Tak berhenti di situ, Ahmad juga berselancar dalam kehangatan Nahdlatul Ulama (NU) di masa kepemimpinan K.H. Ahmad Hasyim Muzadi (hasil Muktamar ke-30 NU di Lirboyo, Kediri) yang berlangsung dari tahun 1999 hingga 2010.

Pulang Membangun Negeri: Dari Bisnis hingga Kepemimpinan Organisasi

Pasca-peresmian Provinsi Maluku Utara pada akhir 1999, Ahmad Assagaf memilih pulang ke kampung halamannya di Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara, memboyong segudang pengalaman dari ibu kota. Ia berinteraksi langsung dengan warga dan mulai merintis berbagai peluang usaha.

Ketua Umum FORKI Maluku Utara, Ahmad Assagaf di Pembukaan KEJURDA FORKI Malut 2026, di Ternate

Ekspansi bisnisnya merambah cepat ke berbagai penjuru Maluku Utara; Kota Ternate, Kota Tidore (Sofifi), Halmahera Tengah, Halmahera Timur, hingga kini sedang menjajal peluang melebarkan sayap ke Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Di panggung politik lokal, kemampuannya merangkul arus bawah sempat membuat Partai NasDem Maluku Utara (kala itu dipimpin oleh DR. Ahmad Hatari) menggaetnya masuk ke dalam struktur pengurus inti. Namun, demi fokus membesarkan roda usahanya di berbagai daerah, Ahmad kemudian memilih mengundurkan diri dari jalur politik praktis.

Kendati demikian, ketokohan dan kepeduliannya membuat berbagai organisasi kemasyarakatan dan profesi terus memanggil Ahmad untuk mengabdi kepada daerah tercintanya, Maluku Utara.

FORKI Maluku Utara: Dalam Musyawarah Daerah Luar Biasa, Ahmad didaulat dan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI) Provinsi Maluku Utara. Ahmad diharapkan membangkitkan dan meningkatkan kualitas atlit Karate di Moloku Kiaraha.

Rutinitas LATIHAN GABUNGAN FORKI Maluku Utara di bawah kepemimpinan AHMAD ASSAGAF, S.T

Kemudian, sebuah organisasi kemasyarakatan Nasional,Persatuan Putra Putri Angkatan Darat (P3AD) meresmikan dan melantik Ahmad Assagaf sebagai Anggota Dewan Kehormatan (DK) P3AD Wilayah DKI Jakarta – Maluku Utara. Persemian ini, tentu membuktikan Tokoh Asal Maluku Utara ini memiliki jejaring kuat di level nasional.

Di bulan Mei 2026, dalam Musda Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Ketua Terpilih Aswar Salim menggandengnya untuk memegang posisi strategis sebagai Ketua Harian FSP KEP SPSI Maluku Utara (saat ini tengah menunggu SK resmi Pengurus Pusat).

AHMAD ASSAGAF, ST Dilantik dan Dikukuhkan sebagai Dewan Kehormatan Persatuan Putra Putri Angkatan Darat (P3AD) DKI Jakarta – Maluku Utara

Petuah Guru AL HABIB dan Hakikat Berbagi

Di balik deretan prestasi, reputasi politik, dan keberhasilan usahanya, ada satu fondasi utama yang tak pernah goyah dari diri Ahmad: jiwa sosial yang mendalam. Kepeduliannya terhadap kaum dhuafa dan masyarakat kecil begitu kental dan kerap menggugahnya.

Ahmad menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan ini ia timba langsung dari sang guru sekaligus orang tua rohaninya, Habib Abu Bakar bin Hasan Alatas Azzabidi.

Sebagai Murid dan Orang Tua, AHMAD ASSAGAF S.T menjadikan Al-Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi sebagai sosok yang diteladani, Berbagi Untuk Kemanusiaan.

Sosok Guru: Al-Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi merupakan ulama dan tokoh dakwah terkemuka nasional maupun mancanegara. Beliau dikukuhkan sebagai Mufti Besar untuk empat Kesultanan Maluku Kie Raha (Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan), serta dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Muslim Indonesia (UMI) atas kontribusi besarnya dalam bidang dakwah dan kemanusiaan.

Semangat kemanusiaan Al-Habib Abubakar—yang kerap disalurkan melalui yayasannya—menetes sempurna dalam keseharian Ahmad. Aksi sosial dan penyaluran bantuan untuk masyarakat kurang mampu rutin ia selenggarakan di pelbagai penjuru Ternate hingga ke Kota Palu.

Salah Satu AKSI BERBAGI AHMAD ASSAGAF di Kota Palu

Bagi Ahmad, memberi bukanlah tentang mencari pujian, melainkan tentang menunaikan kewajiban moral. Dalam sebuah perbincangan hangat, ia menyampaikan pesan mendalam yang selalu terpatri di dadanya:

“Kelebihan yang ada pada diri siapapun, pasti terselip hak orang lain di dalamnya—terutama mereka, keluarga, atau perorangan yang sedang membutuhkan. Itu adalah pesan mulia yang selalu disampaikan oleh Alhabib Abubakar, guru sekaligus orang tua saya,” tutur Ahmad menutup perbincangan.

Setidaknya, perjalanan Ahmad Assagaf mengajarkan kita bahwa ketegasan prinsip dan kerapian sikap bisa berjalan seiring dengan kemandirian ekonomi serta kelembutan hati. Keberhasilan sejati seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa ia bagikan kepada sesama. ***

Bacaan Sahabat JS  Hebatnya Sherly di Tarung Pilkada, Alien Mus Dinilai Tak Paham Seni Tempur, DPP Golkar Diminta Evaluasi