Haul 58 Guru Tua, Al Habib Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri resmi digear, Rabu (1/4) di Kota Palu. Puluhan ribu jamaah memadati kompleks Masjid Sis Al-Jufri, tempat agenda puncak Haul Guru Tua 2026 dilaksanakan. Nampak di lokasi acara, posko dan baliho tokoh karismatik Abuya Al Habib Abubakar Bin Hasan Al-Attas Azzabidi bersama Ahmad Bin Husen Assagaf, –seorang pengusaha asal Maluku Utara, seolah menyapa para jamaah.
JScom, PALU – Guru Tua adalah julukan untuk Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (1892–1969), seorang ulama besar dan tokoh pendidikan Islam asal Sulawesi Tengah yang mendirikan lembaga Pendidikan Alkhairaat. Beliau dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di Indonesia Timur dan inspirator pembentukan berbagai sekolah di wilayah Indonesia.
Di Haul Guru Tua ke 58 ini, Habib Ahmad Assagaf dan perwakilan Yayasan Habib Abubakar turut berpartisipasi, mendirikan posko di lokasi acara dan menyalurkan bantuan kemanusian berupa makanan, minumam, beras hingga uang kepada anak yatim.

Ahmad Bin Husen Assagaf salah seorang poengusaha muda Maluku Utara mengaku kehadirannya di Haul Ke 58 Guru Tua adalah bentuk penghormatan kepada sosok ulama yang peduli terhadap keummatan dan pendidikan di Indonesia.
Ahmad Assagaf bersama Majelis Yayasan Abubakar sangat mengapresiasi kegiatan haul yang dilaksanankan tiap tahun ini. Ahmad dikabarkan datang lebih awal gi Kota Palu. “Kami membuka posko kemanusiaan dan membantu para jamaah yang hadir di acara Haul, di kompleks Alkhairaat Palu ini,” ujar Ahmad Assagaf kepada media ini melalui saluran telepon usai mengikuti acara pembukaan Haul, pagi tadi.
Posko Kemanusiaan yang dibentuk Adik Kandung Politisi Nasional Almarhum M. Iqbal Assagaf ini, selain membantu para undangan dan jamaah yang hadir, berupa penyediaan makanan dan minuman, –Yayasan Abubakar juga memberikan bantuan berupa beras kepada warga yang berhak menerima.

Pembagian beras kepada para janda dan fukara dilaksanakan di Posko Kemanusiaan dan diserahkan langsung oleh Ahmad Assagaf. ST. “Semoga bantuan ini bermafaat bagi yang menerima,” Ujar pengusaha muda Maluku Utara ini.

Kehadiran Ahmad Bin Husen Assagaf dan Majelis Yayasan Abubakar yang membuka posko kemanusiaan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat sekitar dan jamaah yang menyaksikan kegiatan Haul 58 Guru Tua.
Pantauan www.jurnalswara.com, suasana spiritual terasa kuat saat zikir bergema syahdu. Meski lautan orang, namun jamaah Haul tampak khusyuk mengikuti setiap lantunan doa yang dipandu melalui pengeras suara.
Jamaah yang datang ke lokasi, sebagian besar memilih berjalan kaki sambil melantunkan selawat, menciptakan suasana yang khidmat dan penuh haru. Sementara lainnya mengikuti menggunakan kendaraan bermotor atau mobil berhias atribut khas haul.

Barisan jamaah Nampak mengular hingga beberapa kilometer. Arus lalu lintas sempat melambat akibat padatnya rombongan, tetapi tetap tertib berkat pengawalan petugas. Di sepanjang perjalanan, suara selawat dan lantunan zikir mengiringi langkah jemaah. Suasana ini tidak hanya mempererat kebersamaan, tetapi juga menjadi momentum spiritual yang mengesankan bagi semua yang hadir.

Menurut Ahmad, yang juga Ketua Umum FORKI Maluku Utara ini, Guru Tua adalah sosok teladan Bagai bangsa Indonesia. Guru Tua berjuang melawan imperialisme melalui jalur pendidikan dan mendirikan sekolah-sekolah di bawah naungan Alkhairaat.

“Beliau dikenal memiliki ilmu yang luas, merakyat, dan konsisten mendidik masyarakat. Beliau sangat mencintai Indonesia, bahkan menggubah syair untuk bendera Merah Putih pada tahun 1945. Nama Guru Tua diabadikan sebagai nama Bandara Kota Palu pada tahun 2014 dan makamnya menjadi pusat wisata religi serta haul tahunan,” ujar Ahmad Assagaf mengapresiasi kecintaan masyarakat kepada sosok Guru Tua. (red)



























