Tudingan Trump bahwa pemimpin Iran membunuh demonstran dan mengembangkan senjata adalah kebohongan besar Amerika. Iran memastikan perundingan Genewa akan berhasil jika masing-masing pihak saling menghargai. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengatakan menjelang perundingan, AS sebaiknya bersikap lebih baik. Markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS berada di Bahrain yang berisiko terkepung jika Iran menutup Selat Hormuz.
JScom, DUBAI – Sehari menjelang putaran ketiga perundingan nuklir Amerika Serikat-Iran, ketegangan justru membayangi. Teheran, Rabu (25/2/2026), mengungkapkan ketidaknyamanan mereka atas pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran saat menyampaikan pidato kenegaraan.
Di depan anggota Kongres AS, Trump di Washington DC, Selasa (24/2/2026) malam, menuduh para pemimpin Iran telah membunuh para demonstran. Bersama proksinya, mereka menyebar teror, kematian, dan kebencian. Tak hanya itu, Trump juga menuduh Teheran tengah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan AS.
”Mereka sudah diperingatkan jangan coba-coba mengembangkan senjata, terutama senjata nuklir. Mereka nekat meneruskan lagi,” kata Trump.
Semua tuduhan itu dibantah Teheran. Menurut para pejabat tinggi Iran, penyataan Trump, termasuk soal senjata nuklir Iran, sebagai bohong besar. Mereka menegaskan, perundingan di Geneva, Swiss, akan berhasil jika para pihak saling menghormati.
Putaran ketiga perundingan nuklir Iran-AS bakal digelar pada Kamis (26/2/2026) di Geneva, Swiss. Namun, menjelang hari perundingan, tensi kedua negara makin memanas.
Juru bicara Kemenlu Iran, Esmail Baghaei, menuding, Trump dan pemerintahannya telah menyebar fitnah dan memelintir informasi soal Iran. ”Segala macam tuduhan soal program nuklir Iran, proyek rudal Iran, dan korban unjuk rasa Januari 2026 adalah pengulangan kebohongan,” kata Baghaei dalam akun X.
Tidak nyaman dengan sikap Trump, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengatakan, menjelang perundingan, AS sebaiknya bersikap lebih baik. ”Jika Anda memilih berunding, diplomasi terhormat dan saling menghargai, kita akan lakukan hal sama di meja perundingan,” kata Qalibaf.
”Namun, jika Anda memilih bertindak seperti yang sudah-sudah, dengan mengelabui, berbohong, dan menyerang di tengah perundingan, Anda akan merasakan dihajar bangsa Iran dan militer Iran,” kata Qalibaf. Sebagaimana diberitakan, putaran ketiga perundingan AS-Iran akan digelar kembali di Geneva pada Kamis (26/2/2026).
Menghangatnya situasi menjelang perundingan itu jelas-jelas memicu kekhawatiran. Jika perundingan Iran-AS kembali gagal mencapai hasil, Trump mengancam menghancurleburkan Iran. Negara kawasan Teluk khawatir serangan AS akan memicu perang kawasan seperti Perang Israel-Hamas 2023-2025 yang membuat kacau Timur Tengah.
Iran sudah menyampaikan, jika AS menyerang, Iran punya hak membela diri dan membalas menyerang pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. AS memiliki pangkalan militer di Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Jordania.
Markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS berada di Bahrain yang berisiko terkepung jika Iran menutup Selat Hormuz. Kapal-kapal perang AS biasanya melakukan docking (perawatan kapal) di Bahrain. Dalam pantauan satelit, kapal-kapal AS terlihat meninggalkan Bahrain menuju laut lepas melintasi Selat Hormuz.
Perundingan
Terkait perundingan lanjutan, Oman akan kembali menjadi mediator antara AS dan Iran. Sebelumnya, Oman menjadi tuan rumah putaran pertama perundingan AS-Iran pascaserangan udara AS ke situs-situs nuklir Iran pada 22 Juni 2025.
AP PHOTO/KEMENTERIAN LUAR NEGERI IRANDalam foto yang diedarkan Kementerian Luar Negeri Iran, Jumat (6/2/2026), tampak Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi (tengah) memimpin delegasi untuk berunding dengan Amerika Serikat di Muskat, Oman.
Jika perundingan gagal, ketidakpastian akan menyelimuti kawasan Timur Tengah. Kini AS telah menempatkan dua kapal induknya di seputar perairan Teluk.
Saat ini kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, sedang ditarik dari mandala dekat Iran ke Pulau Kreta, Yunani, untuk perbaikan sistem pembuangan kamar mandi. Saluran tinja yang macet membuat ABK USS Gerald R Ford harus antre minimal 45 menit untuk dapat menggunakan kamar mandi.
Sejauh ini, AS belum menjelaskan kemungkinan serbuan militer. Tahun lalu, serangan AS dilakukan di tengah perundingan dengan Iran dan tanpa izin Kongres AS. Perbuatan itu melanggar konstitusi AS. Tidak dijelaskan apakah serangan terbatas yang akan dilakukan militer AS atau operasi militer jangka panjang. Sejauh ini belum terlihat perencanaan langkah lanjut yang dilakukan AS.
Foto satelit yang diambil oleh Planet Labs PBC dan dianalisis AP memperlihatkan sejumlah kapal AL AS masih melakukan perbaikan di Bahrain.
AP PHOTO/MASS COMMUNICATION SPECIALIST SEAMAN DANIEL KIMMELMAN/US NAVY
Dalam foto yang diberikan oleh Angkatan Laut AS ini memperlihatkan Aviation Boatswain’s Mate 2nd Class Michael Cordova sedang mengarahkan pesawat F/A-18F Super Hornet di dek penerbangan kapal induk USS Abraham Lincoln saat berlayar di Samudra Hindia pada 23 Januari 2026.
Juru bicara Armada Ke-5 AS mengarahkan pertanyaan media ke Komando Pusat (Cen Com) Militer AS terkait perkembangan situasi rencana operasi terhadap Iran. Sebelum serangan balasan Iran ke Qatar pada Juni 2025, Armada Ke-5 segera menyebar kapal-kapal perang mereka ke laut lepas agar tidak terkepung di dekat Selat Hormuz.
Di tengah ketidakpastian itu, Iran mengadakan perundingan pembelian rudal antikapal CM-302 dari China untuk memperkuat pertahanan Iran. Rudal CM-302 melaju 3,3 kali kecepatan suara dengan menyusur permukaan laut.
Selain itu, dua kapal perang masing-masing sebuah korvet AL Rusia dan destroyer AL China sedang berada di Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, seusai latihan bersama tiga negara.
Spekulasi lainnya adalah tentang serangan balik Iran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Israel. Serangan itu dikhawatirkan memicu perang lebih besar. (AP)




















